- Istimewa
Indef Catat Cadangan Emas Indonesia pada 2026 Capai 87 Ton, Ekonom: Harus Siapkan Likuiditas Agar Tetap Stabil
Kemudian, Jerman memiliki 3.350,3 ton atau 84,6 persen, Italia 2.451,8 ton atau 82 persen, dan Prancis 2.437 ton atau 82,5 persen, Rusia memiliki cadangan emas 2.311 ton atau 48,1 persen dari total cadangan devisa, India 880,3 ton atau 19,8 persen, Jepang 846 ton atau 10,1 persen, dan China 2.313 ton atau 10 persen.
Dia juga menyebutkan tren global telah menunjukkan adanya perubahan dalam pengelolaan cadangan devisa. Setelah sistem moneter global lama lebih banyak bertumpu pada dolar AS, emas kembali mendapat perhatian sebagai instrumen diversifikasi di tengah perubahan kondisi ekonomi global.
"Sejak Bretton Woods itu kita melakukan yang namanya cadangan devisa itu dari emas ke dolar. Tapi sekarang kan dolar sudah mulai juga kondisi ekonomi Amerika sudah mulai pelemahan, makanya kenapa orang atau negara kembali ke emas," terangnya.
Sementara, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ellen Setiadi menambahkan emas perlu dilihat sebagai bagian dari rantai yang saling terhubung, bukan sekadar komoditas pertambangan.
"Kembali lagi ya, dia tidak bisa berdiri sendiri. Artinya dari raw material sampai dengan masyarakat sampai dengan cadangan itu bagian rantai yang saling berhubungan," tegas Ellen.
Menurut Ellen, penguatan ekosistem tersebut diperlukan agar emas yang berasal dari produksi dalam negeri dapat masuk ke sistem formal dan memenuhi standar yang dibutuhkan pasar keuangan internasional.
"Nah, tadi Pak Dirjen sudah bicara bagaimana dari sisi hulunya, dari sisi sumber itu tertata. Memang kalau kita ke LBMA, tentu ada traceability. Dia dari mana sumbernya dan sumbernya itu bisa dipertanggungjawabkan terhadap pengelolaan lingkungan, sumber daya masyarakat, dan lain sebagainya," bebernya.
Ellen mengatakan setelah sisi produksi dan keterlacakan diperkuat, emas dapat masuk ke pasar melalui berbagai saluran, termasuk lembaga keuangan.
Pemerintah juga melihat perkembangan bullion banking sebagai bagian dari perluasan fungsi emas dalam sistem keuangan.
"Bagaimana juga mengembangkan Bullion tidak hanya sebagai aset sebagai simpanan sebagai investasi tetapi juga sebagai model pembiayaan. Ini yang baru," kata Ellen.
Dia menuturkan, apabila emas dapat digunakan sebagai instrumen pembiayaan, keberadaannya dapat menciptakan sumber pendanaan baru bagi sektor industri.