- dok.kolase tvOnenews.com/ antara/tangkapan layar YouTube wartakota
Firasat Ibu Aris Sanda, Sopir Travel Korban KKB Wamena-Mbua Sempat Ingatkan Putranya Jangan Pergi
tvOnenews.com - Kejadian tragis menimpa seorang sopir travel yang bernama Aris Sanda alias Tasya (41) yang tewas menjadi korban kekejaman kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.
Aris Sanda yang berasal dari Toraja tewas setelah diserang oleh KKB yang diduga merupakan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Insiden tragis ini terjadi di jalur Trans Wamena, Nduga, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan pada Selasa (15/9/2026).
Peristiwa yang menimpa Aris Sanda terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial. Terlihat sekelompok KKB mengepung korban dengan memaksa mengakui ‘Papua Bisa Merdeka’.
Sebelum sopir tersebut ditemukan tewas, ibunda Aris Sanda, Elisabeth Salasa mengungkapkan firasatnya untuk tidak pergi melintasi jalur tersebut.
Firasat Ibunda Aris Sanda
- Tim tvOne - Kabar Siang
Ibunda Aris Sanda, Elisabeth Salasa yang tinggal di Toraja mengungkapkan bahwa putranya telah 23 tahun merantau ke Papua dan tinggal di Kota Wamena.
Berdasarkan penjelasan dari Elisabeth, awalnya Aris merupakan seorang tukang ojek, kemudian ia mendirikan tempat pencucian mobil.
Elisabet Salasa mengatakan putranya terus berusaha keras untuk mencari nafkah.
Awal Aris bekerja menjadi seorang sopir, ia menerima tawaran untuk membawa mobil baru yang dibeli seseorang.
Lalu, ia menyetir mobil tersebut untuk diberikan kepada pemilik mobil di Distrik Mbua.
“Sampai disana, dia suka sama anakku. Dia selalu panggil naik ke Mbua sampai 13 tahun sudah kerja disana membawa makanan, memuat orang, makanan, apapun segalanya dia bawakan orang disana. Karena dia baik hati sama orang di kampung sana,” ungkap Elisabeth Salasa dalam wawancara di program Kabar Siang, tvOne, Jumat (18/9/2026).
Selain itu, istrinya menjadi seorang guru dan mengajar di Mbua. Itu sebabnya Aris kerap ke Mbua.
“Saya pernah tanya. Dia bilang ‘saya sudah sering ke sana’. Bilang ‘jangan pergi kalau banyak orang sudah dibunuh di situ’. Tapi dia bilang, ‘tidak, saya sudah berapa lama di sana. Orang suka dengan saya. Tanya kenalan ada orang ambil saya (jadi) anak angkat di sana’. Jadi itulah dia tidak takut-takut di sana,” terang Ibunda Aris.
Elisabeth mengungkapkan Aris bekerja sangat keras untuk istri dan ibunya, serta baik kepada semua orang lain, baik di kampung halaman maupun di perantauan.
“Itu anak baru dia telepon, dia bilang ‘saya cari uang dulu baru saya pulang mak’. Jadi saya tunggu sampai bulan ini. Bulan Desember dia cuti sama istrinya, dia pulang sama-sama,” ujarnya.
Jenazah Ditemukan
Polres Jayawijaya bersama Brimob Yon B, Satgas Damai Cartenz dan Satgas Habema segera melaksanakan olah tempat kejadian perkara (TKP)
Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Darlianto Pabia mengungkapkan jenazah almarhum Aris Sanda telah ditemukan dan dievakuasi.
“Personel menemukan satu unit kendaraan Strada Triton dalam kondisi hangus terbakar dan berada kurang lebih 13 meter dari badan jalan,” ungkap Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Darlianto Pabia dalam keterangan resminya.
“Jenazah korban sudah ditemukan di dalam kabin kendaraan, pada posisi sekitar kursi kemudi, dengan kondisi terbakar berat sehingga sebagian besar jaringan tubuh mengalami karbonisasi dan ciri-ciri fisik sulit dikenali secara visual,” sambungnya.
Hingga kini kepolisian masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap peristiwa menjadi terang.
(kmr)