- Antara
Jasad ABK Kapal Jurnalis Ditemukan 345 Km dari Titik Terakhir Kapal di Pulau Sebesi
Jakarta, tvOnenews.com - Jasad pria yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, telah dipastikan identik dengan salah satu anak buah kapal (ABK) yang mengangkut rombongan jurnalis yang hilang saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Lokasi penemuan jasad tersebut berada cukup jauh dari titik terakhir kapal rombongan jurnalis terdeteksi.
Berdasarkan pengukuran menggunakan Google Earth, jarak antara Pulau Enggano dan titik terakhir kapal terdeteksi di Pulau Sebesi mencapai sekitar 345,05 kilometer jika ditarik dalam garis lurus.
Jarak tersebut memperlihatkan lokasi penemuan jasad berada ratusan kilometer dari kawasan terakhir kapal rombongan jurnalis terdeteksi sebelum hilang.
Pulau Enggano berada di perairan Bengkulu
Pulau Enggano merupakan wilayah yang berada di kawasan Bengkulu Utara. Pulau tersebut terletak di perairan Samudra Hindia, tepatnya di sebelah barat daya Pulau Sumatera.
Lokasi Pulau Enggano berbeda jauh dengan kawasan Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), kapal yang membawa rombongan jurnalis diketahui terakhir terdeteksi di Pulau Sebesi.
Pulau Sebesi berada di kawasan Selat Sunda dan masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.
Dari dua lokasi tersebut, Pulau Sebesi menjadi titik terakhir kapal terdeteksi sebelum rombongan dinyatakan hilang.
Jika garis lurus ditarik dari Pulau Sebesi menuju Pulau Enggano, jaraknya berdasarkan pengukuran Google Earth sekitar 345,05 kilometer.
Penemuan jasad terjadi lima hari setelah rombongan hilang
Rombongan yang terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru kapal tersebut dilaporkan hilang pada 7 September 2026.
Mereka sebelumnya hendak menuju Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan erupsi.
Lima hari setelah dinyatakan hilang, tepatnya pada Sabtu, 12 September 2026, ditemukan jasad seorang pria di Pulau Enggano.
Jasad tersebut kemudian dievakuasi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi melakukan pemeriksaan DNA guna memastikan identitas korban.
Proses identifikasi dilakukan karena kondisi jasad tidak dapat langsung dipastikan secara visual. Hasil pemeriksaan DNA kemudian menjadi dasar untuk mengetahui apakah jasad tersebut merupakan salah satu dari delapan orang yang hilang.