- Pemprov Jabar
Dedi Mulyadi Jadi Sorotan Media Inggris, Financial Times Sebut KDM Figur Alternatif di Peta Pilpres 2029
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM mulai mendapat sorotan media internasional sebagai salah satu figur yang diperbincangkan dalam peta politik jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Sorotan terhadap KDM ini datang dari media bisnis Inggris, Financial Times (FT), melalui laporan berjudul “Is this Indonesia’s next president?” yang terbit pada 21 September 2026.
Dalam artikel tersebut, FT menyoroti popularitas Kang Dedi Mulyadi yang dinilai telah berkembang melampaui basis politiknya di Jawa Barat.
Aktivitas KDM yang terekspos media sosial disebut turut membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus memperluas pengenalannya di tingkat nasional.
Hampir setiap hari, Gubernur yang memimpin wilayah dengan penduduk terbesar di Indonesia ini memang membagikan berbagai aktivitas melalui media sosial, khususnya YouTube.
Konten Gubernur Jabar sering menyorot pertemuannya dengan masyarakat, bicara kebijakan, hingga respons terhadap keluhan warga dan pemberian bantuan.
Alhasil, popularitas KDM kemudian dikaitkan FT dengan dinamika peta politik nasional menjelang Pilpres 2029. Bahkan, FT tak ragu menyebut KDM sebagai figur alternatif dalam pesta demokrasi lima tahunan yang akan datang.
"For many Indonesians, there is little doubt Dedi is a credible alternative to Prabowo," tulis FT dalam laporannya.
FT mengutip hasil survei SMRC pada Juli 2026 yang mencatat elektabilitas Dedi sebesar 35 persen, sedangkan Prabowo Subianto berada di angka 14,5 persen.
Dalam simulasi head to head yang dikutip FT, Dedi memperoleh 59 persen suara, sementara Prabowo mencapai 28,3 persen.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan kepada FT bahwa tingkat pengenalan Dedi di tingkat nasional diperkirakan mencapai sekitar 90 persen masyarakat Indonesia.
Menurut Deni, persepsi publik mengenai kepedulian dan empati menjadi salah satu faktor yang membuat Dedi disukai.
Namun, FT juga menyoroti adanya kritik terhadap gaya komunikasi Dedi di media sosial. Pola komunikasi melalui medsos ini membuat KDM mendapat julukan "Content Governor" atau Gubernur Konten.
Sejumlah pihak menilai tingginya intensitas produksi konten berpotensi membuat aktivitas tersebut terlihat lebih menonjol dibandingkan kinerjanya sebagai kepala daerah.
KDM Buka Suara soal Maju Pilpres 2029