news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi - Gunung Anak Krakatau..
Sumber :
  • Antara

Daratan Baru Anak Krakatau Capai 32,8 Hektare, Seluas Puluhan Lapangan Sepak Bola

Daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau mencapai 32,8 hektare. Badan Geologi menduga daratan terbentuk dari material erupsi yang mengendap.
Kamis, 24 September 2026 - 18:10 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Dua daratan baru yang menyerupai pulau muncul di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Lampung. Kemunculan daratan tersebut terjadi setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada awal September 2026.

Berdasarkan perhitungan Badan Geologi, penambahan daratan di sekitar tubuh Gunung Anak Krakatau mencapai 32,8 hektare.

Luas tersebut setara dengan sekitar 44 kali lapangan sepak bola. Dengan ukuran tersebut, daratan baru yang muncul bukan sekadar gundukan kecil, tetapi merupakan penambahan kawasan daratan yang cukup luas di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Daratan baru tersebut diduga terbentuk dari material vulkanik yang dikeluarkan selama aktivitas erupsi. Material tersebut kemudian mengalami pengendapan hingga membentuk daratan yang terlihat menyembul di atas permukaan laut.

Muncul Setelah Erupsi Menerus 25 Jam

Kemunculan daratan baru Anak Krakatau berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung pada 4 hingga 6 September 2026.

Pada 4 September 2026, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam. Aktivitas tersebut kemudian berakhir pada 6 September 2026.

Erupsi menerus tersebut dikaitkan dengan fenomena air mancur lava atau lava mountain. Selama aktivitas tersebut, material hasil erupsi keluar dalam jumlah besar dan kemudian membentuk endapan di sekitar tubuh gunung.

Badan Geologi kemudian mengevaluasi perubahan bentuk tubuh Gunung Anak Krakatau melalui citra satelit Sentinel.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya penambahan daratan di sektor barat laut, barat, hingga barat daya tubuh Gunung Anak Krakatau.

Fenomena tersebut diduga merupakan akibat pengendapan material piroklastik dan aliran lava yang dihasilkan selama erupsi menerus pada 4-6 September 2026.

Ada Dua Gumuk Seperti Pulau

Selain penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau, citra satelit Sentinel juga mendeteksi keberadaan dua gumuk atau gundukan kecil yang terlihat seperti pulau.

Kedua gumuk tersebut berada di sektor barat laut dan tenggara dari tubuh Gunung Anak Krakatau.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Rita Susilawati mengatakan kemunculan dua daratan tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam.

Berdasarkan interpretasi awal, magma encer yang keluar selama erupsi menerus mencapai permukaan melalui jalur bukaan yang memanjang dari arah barat laut menuju tenggara.

Material hasil erupsi kemudian membentuk daratan di lokasi lain yang terlihat sebagai dua gumuk menyerupai pulau.

Namun, Badan Geologi belum memastikan secara final proses pembentukan kedua gumuk tersebut. Pengecekan lapangan masih diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

"Sekali lagi ini masih interpretasi awal yang perlu dikonfirmasi melalui pengecekan lapangan. Badan Geologi akan mencocokkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi serta melakukan verifikasi lapangan," tutur Rita.

Bukan Gunung Api Baru

Kemunculan dua daratan baru di sekitar Anak Krakatau sempat menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan terbentuknya gunung api baru.

Pakar mitigasi bencana sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, daratan tersebut bukan gunung api independen.

Menurut Daryono, daratan baru itu merupakan akumulasi material vulkanik yang berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Material tersebut berupa abu, batuan, dan lava hasil erupsi yang mengendap di dasar laut. Seiring aktivitas vulkanik meningkat, material yang menumpuk kemudian dapat menyembul hingga ke permukaan air.

"Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut," kata Daryono.

Mengapa Daratan Bisa Meluas?

Pembentukan daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi sejumlah faktor geologis dan oseanografis.

Dasar laut di kawasan kaldera purba yang merupakan sisa letusan tahun 1883 tergolong dangkal. Kondisi tersebut memungkinkan material hasil erupsi lebih cepat menumpuk hingga mencapai permukaan.

Selain itu, lontaran material piroklastik dan aliran lava selama erupsi juga dominan bergerak ke sektor tersebut.

Dinamika arus dan gelombang laut di Selat Sunda turut memengaruhi proses sedimentasi. Material yang lebih ringan dapat terbawa arus dan kemudian mengendap di titik-titik perairan yang lebih tenang.

Proses tersebut berlangsung secara bertahap. Karena itu, luas daratan yang terbentuk dapat berubah seiring aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi laut di sekitarnya.

Bisa Makin Luas atau Hilang Lagi

Luas daratan baru Anak Krakatau sebesar 32,8 hektare saat ini belum tentu menjadi ukuran permanen.

Daryono menjelaskan, keberadaan daratan tersebut bergantung pada keseimbangan antara aktivitas vulkanik dan proses erosi alam.

Jika Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dan terus memasok material vulkanik, endapan baru berpotensi membuat daratan tersebut semakin luas.

Sebaliknya, apabila pasokan material berkurang, proses erosi akibat gelombang dan arus laut dapat mengikis daratan yang telah terbentuk.

Dengan demikian, angka 32,8 hektare merupakan luasan penambahan daratan yang tercatat berdasarkan analisis Badan Geologi setelah aktivitas erupsi menerus Anak Krakatau pada awal September 2026, sementara bentuk dan luas daratan tersebut masih dapat berubah mengikuti aktivitas vulkanik serta kondisi perairan di sekitarnya.

Rita juga mengimbau masyarakat tetap tenang. Saat ini status Gunung Anak Krakatau berada pada Level II atau Waspada, dengan rekomendasi tidak mendekati radius 2 kilometer dari pusat erupsi.

Masyarakat juga diminta tidak mendekati radius 1 kilometer dari lokasi dua gumuk yang terlihat di sekitar Gunung Anak Krakatau.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:12
06:45
04:21
04:52
04:00
07:00

Viral