news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Petugas memeriksa kondisi gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4)..
Sumber :
  • Antara

Terungkap Fakta Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL di Bekasi, Ada Masalah Sinyal hingga Pengereman

KNKT mengungkap fakta kecelakaan KA Argo Bromo dan KRL di Bekasi, mulai dari anomali sinyal, komunikasi, hingga pengereman sebelum tabrakan.
Selasa, 29 September 2026 - 15:00 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada 27 April 2026, menyisakan sejumlah fakta penting yang diungkap Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Dalam laporan investigasi awal, KNKT mengungkap adanya sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan dua rangkaian kereta tersebut.

Kecelakaan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek nomor KA 4B relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi dengan KRL nomor KA 5568A relasi Kampung Bandan-Cikarang.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono memaparkan hasil investigasi awal tersebut dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026).

Dari hasil investigasi sementara, persoalan tidak hanya berkaitan dengan perjalanan kereta, tetapi juga menyangkut sistem persinyalan, kondisi lingkungan sekitar jalur, hingga mekanisme komunikasi antara pengendali perjalanan kereta dan masinis.

1. Ada Anomali Persinyalan di Jalur Bekasi-Bekasi Timur

Salah satu fakta penting yang ditemukan KNKT adalah adanya anomali persinyalan antara Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur.

KNKT melakukan simulasi pelayanan kereta atau train stepping di Equipment Room Stasiun Bekasi serta simulasi lapangan setelah kejadian.

Dalam skenario tersebut, KA berjalan langsung dari jalur 3 Stasiun Bekasi ketika track 104BT di area Stasiun Bekasi Timur dalam kondisi terisi.

Hasil simulasi menunjukkan sinyal keluar J12 di Stasiun Bekasi dapat menunjukkan aspek hijau atau semboyan 5 yang berarti kondisi aman.

Pada saat yang sama, sinyal pengulang atau repeater blok UB104 menunjukkan cahaya mendatar berwarna putih atau semboyan 9C3 yang mengindikasikan sinyal blok merah.

Sementara itu, sinyal blok B104 juga menunjukkan aspek merah atau semboyan 7.

Menurut KNKT, hasil simulasi tersebut konsisten dengan kondisi aspek persinyalan yang ditemukan dalam pemeriksaan.

Kondisi ini menunjukkan sinyal di Stasiun Bekasi tidak mendeteksi keberadaan KRL KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur. Akibatnya, sinyal keluar Stasiun Bekasi justru menunjukkan aspek aman atau hijau.

Padahal, apabila sinyal di depan masih menunjukkan kondisi tidak aman atau merah, seharusnya sinyal keluar Stasiun Bekasi menunjukkan aspek hati-hati atau kuning.

2. Masinis Kesulitan Melihat Sinyal Pengulang

Fakta berikutnya berkaitan dengan kondisi lingkungan di sekitar jalur kereta.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan KNKT dengan melihat kondisi dari dalam kabin lokomotif dan kabin KRL, masinis KA Argo Bromo Anggrek disebut mengalami kesulitan melihat aspek sinyal pengulang di petak Stasiun Bekasi menuju Stasiun Bekasi Timur.

Persoalannya adalah pencahayaan dari lingkungan sekitar jalur.

Lampu dari rumah warga, pasar, dan penerangan jalan di sekitar rel disebut memiliki intensitas serta warna yang menyerupai aspek sinyal pengulang.

Kondisi tersebut membuat masinis kesulitan membedakan cahaya lingkungan dengan indikator sinyal yang harus diperhatikan.

"Jadi ini kami mengikut di dalam kabin lokomotif, juga di kabin KRL, kita melihat malam situasinya, jadi masinis kesulitan untuk melihat sinyal pengulang, karena adanya pencahayaan dari lampu-lampu pasar dan rumah di sekitar rel," kata Soerjanto.

3. Sistem Komunikasi Pengendali Kereta Dinilai Terlalu Berbelit

KNKT juga menemukan adanya persoalan komunikasi antara pengendali perjalanan kereta api atau PK.

Sistem komunikasi yang digunakan dinilai memiliki alur yang cukup panjang sehingga dapat menimbulkan jeda dalam penyampaian informasi.

KA 5568A menggunakan Radio Sepura dan berada di wilayah komunikasi S.27 atau PK Selatan. Sementara KA 4B Argo Bromo Anggrek menggunakan radio lokomotif dan berada di wilayah komunikasi S.1 atau PK Timur.

Dengan kondisi tersebut, informasi dari PK Selatan harus disampaikan terlebih dahulu kepada chief. Setelah itu, informasi diteruskan kepada PK Timur.

Menurut KNKT, proses tersebut membuat waktu penyampaian informasi menjadi lebih panjang.

"Sistem komunikasi Petugas Pusat Pengendalian Operasi Kereta Api (PK) terlalu berbelit," ujar Soerjanto.

KNKT menilai mekanisme komunikasi tersebut perlu diperbaiki agar informasi mengenai kondisi perjalanan kereta dapat disampaikan dengan lebih cepat.

4. Masinis Sudah Mengerem dari Jarak 1,3 Kilometer

Fakta lainnya, masinis KA Argo Bromo Anggrek disebut sudah melakukan upaya pengereman setelah mendapatkan informasi mengenai keberadaan KRL di depan.

KNKT menerima laporan bahwa masinis melakukan pengereman dari jarak sekitar 1,3 kilometer setelah mendapatkan informasi mengenai adanya KRL di jalur depan.

Namun, pengendali perjalanan kereta api tidak mengetahui secara langsung kondisi sebenarnya di sekitar Stasiun Bekasi Timur.

Hal tersebut disebabkan komunikasi dilakukan melalui suara radio dari kabin. Dengan demikian, PK hanya menerima informasi berdasarkan komunikasi yang disampaikan, tanpa dapat melihat kondisi langsung di lapangan.

"Kami mendapat laporan dari masinis KA Argo Bromo Anggrek, bahwa ia sempat melakukan pengereman dari jarak 1,3 km, setelah menerima informasi bahwa di depan ada temperan KRL," kata Soerjanto.

5. Masinis Diminta Mengerem Bertahap

KNKT juga mengungkap adanya persoalan dalam instruksi pengereman.

Informasi dari PK Timur kepada masinis KA 4B Argo Bromo Anggrek adalah melakukan pengereman secara bertahap dan memperbanyak semboyan 35 atau klakson.

Pada saat itu, informasi mengenai status jalur hulu dan hilir serta ruang bebas kereta atau prepal juga belum diperoleh dari lintas terkait.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan dalam investigasi KNKT.

6. Emergency Brake Dilakukan 300 Meter Sebelum Sinyal Blok

Meski instruksi yang diterima berupa pengereman bertahap, KA Argo Bromo Anggrek disebut telah melakukan pengereman darurat.

Berdasarkan data logger, KA 4B melakukan emergency brake dan independent brake sekitar 300 meter dari sinyal blok sebelum Stasiun Bekasi Timur.

Namun, upaya pengereman tersebut tidak berhasil mencegah terjadinya tabrakan.

KNKT mencatat tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL terjadi ketika kecepatan kereta berada di kisaran 40-60 kilometer per jam.

Rangkaian fakta tersebut menjadi bagian dari laporan investigasi awal KNKT mengenai kecelakaan yang terjadi pada 27 April 2026.

Temuan awal menunjukkan kecelakaan tidak hanya berkaitan dengan satu faktor. KNKT mengungkap persoalan persinyalan, gangguan pandangan terhadap sinyal akibat pencahayaan sekitar, mekanisme komunikasi yang berbelit, hingga instruksi pengereman dan kondisi jalur turut menjadi bagian yang diperiksa dalam rangkaian investigasi kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:34
20:26
11:49
04:30
01:21
04:42

Viral