- Istimewa
Sekjen MUI Sikapi Ceramah Habib Alwi Assegaf yang Rendahkan Wanita: Dakwah Itu Mengajak Kebaikan
Ia menilai materi ceramah sebaiknya disesuaikan dengan persoalan yang tengah dihadapi masyarakat. Dengan demikian, dakwah dapat memberikan manfaat nyata dan membantu jemaah memahami berbagai persoalan kehidupan.
"Masyarakat kita ini tengah menghadapi banyak masalah, seperti masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kenapa itu enggak diangkat? Karena itu, orang yang baik itu bisa menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah," tuturnya.
Meski demikian, Amirsyah menegaskan bahwa kegiatan dakwah tetap harus berlandaskan prinsip amar makruf nahi mungkar, yakni mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Prinsip tersebut perlu diwujudkan melalui penyampaian pesan agama yang santun dan tidak merendahkan martabat orang lain.
"Kita mengedepankan dakwah agar mampu memberikan solusi terhadap kehidupan manusia. Saya berharap gaya dakwah disampaikan secara persuasif agar hidup rukun, aman, dan tenteram," harap dia.
Sebelumnya, polemik ini bermula dari beredarnya potongan video ceramah yang menampilkan Habib Alwi bin Abdurrahman Assegaf. Dalam video tersebut, ia awalnya membicarakan besaran honorarium yang diterimanya ketika mengisi ceramah.
Habib Alwi mengklaim honorarium terendah yang pernah diterimanya mencapai Rp75 juta. Pernyataan tersebut disampaikan dengan gaya bercanda hingga mengundang tawa para jemaah yang hadir.
Namun, suasana ceramah kemudian menjadi sorotan setelah ia melontarkan candaan mengenai santriwati. Dalam pernyataannya, ia menginginkan santri perempuan dihadirkan dengan maksud memilih calon istri keempat.
"Ane mau datang, tapi dengan catatan keluarkan santri-santri perempuan. Santri laki-laki gue udah eneg. Perempuan, keluarin ane mau pilih mudah-mudahan ada santri perempuan yang mau saya jadiin istri keempat," ucap sang penceramah.
Polemik semakin meluas ketika Habib Alwi juga melontarkan pernyataan mengenai jemaah perempuan lanjut usia. Ucapan tersebut dinilai merendahkan perempuan dan memicu kritik dari berbagai kalangan.
"Enggak ada pahalanya ceramah depan emak-emak, ngotor-ngotorin mata, tapi kalau perawan segar. Maaf-maaf nih, ane begini, aye tukang becanda," katanya.
Pernyataan tersebut menuai perdebatan di tengah masyarakat. Menanggapi hal itu, Waketum MUI, KH Cholil Nafis, mengambil sikap tegas dengan mengimbau masyarakat, khususnya umat Islam, agar tidak lagi mengikuti kajian maupun mengundang Habib Alwi sebagai penceramah.