news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Wakil Ketua MUI Muhammad Cholil Nafis.
Sumber :
  • Istimewa

Reaksi Waketum MUI soal Imam Mahdi Gadungan di Bangkalan Modus Top Up Nyawa, Berujung Peras Korban Rp1,3 Miliar

Waketum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis menyoroti kasus dugaan penipuan dilakukan oleh pria inisial FF asal Bangkalan mengaku sebagai Imam Mahdi.
Senin, 26 Oktober 2026 - 07:22 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (Waketum MUI), Cholil Nafis turut menyoroti fenomena yang terjadi di Bangkalan. Seorang pria berinisial FF diduga mengaku sebagai sosok Imam Mahdi.

Selain mengaku Imam Mahdi, pria tersebut juga menjanjikan beberapa hal kepada pengikut maupun santrinya, mulai dari bisa memperpanjang umur hingga masuk surga.

Salah satu korban, Halimi justru merasa telah menjadi korban pemerasan. Ia mengalami kerugian sebesar Rp1,3 miliar, sehingga mendorong dirinya melaporkan Imam Mahdi palsu tersebut kepada polisi atas dugaan penipuan bermodus ajaran keagamaan.

Cholil Nafis mulanya menanggapi secara santai terkait kasus dugaan penipuan tersebut. Kebiasaan maupun kultur masyarakat saat bersikap atau mengikuti ajaran guru, khususnya di wilayah Jawa Timur jarang terpisahkan.

"Pertama, saya memahami tentang kultur masyarakat yang sangat tunduk kepada guru," ujar Cholil Nafis saat dihubungi tvOne, Minggu (25/10/2026).

Cholil Nafis telah mendengar kronologi dugaan penipuan melalui modus ajaran keagamaan dilakukan oleh FF. Halimi dan Jailani, kuasa hukumnya menceritakan awal mula kasus ini berangkat dari kakaknya F, GY.

GY merupakan guru spiritual sekaligus panutan Halimi dan sejumlah pengikutnya. Saat itu tidak ada ajaran agama yang bertentangan dengan syariat Islam.

Setelah GY meninggal dunia pada 2019, korban dan sejumlah pengikut lainnya diperkenalkan ke ayah GY, AS yang mengaku dijuluki sebagai Ratu Adil Alaihi Salam, sedangkan FF mengaku Imam Mahdi.

"Dari 2019, ini mulai ada masalah ketika diteruskan oleh adiknya. Bukan adanya pengajaran, justru yang ada kesesatan. Kesesatannya yang pertama adalah mengaku sebagai Imam Mahdi," terangnya.

FF mulai melancarkan aksinya untuk terus mencuri otak para pengikutnya. Mulanya pria asal Bangkalan itu menyebut bahwa ayahnya kerap bisa melihat amal dan berkomunikasi dengan Tuhan.

Seiringnya waktu, para pengikutnya terus dijanjikan umur panjang, terhindar dari siksa kubur hingga jaminan masuk surga. Akibatnya, mereka didesak membayar uang dengan sejumlah Rp3,3 juta.

"Yang kedua menjadi kesalahan fatal itu dia mengira orang kapan akan meninggal. Kalau tidak bayar, dia akan meninggal," tambahnya.

Peristiwa ini tidak sekadar dirasakan oleh para pengikutnya, namun juga melibatkan pihak lain atau keluarga mereka yang dipaksa untuk membayar dengan menggunakan uang.

Berbagai penawaran juga menjadi andalan modus FF. Ironisnya lagi, para pengikutnya diminta mendahulukan FF dan AS ketimbang menjalankan shalat.

KH Cholil sapaan akrabnya, melihat fenomena ini menjadi pembelajaran penting bagi umat Islam di Indonesia. MUI hingga lembaga-lembaga keagamaan lainnya juga diajak agar mengedukasi masyarakat untuk selalu taat kepada guru sesuai dengan koridor Al-Qur'an maupun hadits.

"Saya pikir ini menjadi tugas kita bersama mencerdaskan masyarakat agar mencari guru yang tepat dan taat pada guru sesuai dengan landasan Al-Qur'an dan hadits," ucapnya.

(hap)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:02
14:03
08:06
08:08
08:29
08:13

Viral