- ANTARA
Off-Ramp dalam Darurat Amunisi: Mengapa AS Memilih Gencatan, Bukan Serangan Besar ke Iran
Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Fulad
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017-2019)
tvOnenews.com - Sebagai orang yang pernah duduk di ruang Dewan Keamanan PBB, menyaksikan bagaimana keputusan perang dan damai sering kali ditentukan oleh hitungan logistik dan tekanan politik semata, izinkan saya berbagi kegelisahan sekaligus analisis jujur mengenai situasi yang kita hadapi saat ini.
Beberapa pekan terakhir, kita disuguhi berita tentang perpanjangan gencatan senjata sepihak oleh Amerika Serikat terhadap Iran. Banyak pihak di tanah air yang bertanya-tanya: apakah ini taktik sebelum serangan besar? Ataukah AS sedang mencari jalan keluar?
Setelah mencermati perkembangan secara intensif termasuk laporan intelijen terbuka dan pernyataan resmi kedua pihak, saya sampai pada kesimpulan yang mungkin bertolak belakang dengan dugaan banyak orang: ini bukanlah persiapan perang. Ini adalah upaya mundur yang terhormat, lahir dari kelemahan logistik dan politik.
Mari saya uraikan secara lugas, sebagai sesama anak bangsa, bukan sebagai jenderal yang menggurui.
Amerika Kehabisan "Peluru" untuk Perang Gesekan
- Pexels
Kita sering terlalu kagum pada kekuatan militer AS. Kapal induk, jet siluman, rudal jelajah semua itu mengesankan. Namun sebagai seorang militer yang pernah mempelajari logistik perang modern, saya ingin meluruskan: perang tidak hanya dimenangkan oleh teknologi, tapi oleh kemampuan memproduksi amunisi hari demi hari.
Faktanya, perang di Ukraina telah menguras habis stok amunisi penting NATO, terutama proyektil 155mm. Berdasarkan laporan Bloomberg yang dirilis 23 April 2026, stok amunisi darat AS saat ini diperkirakan hanya cukup untuk 14 hingga 21 hari pertempuran intensitas tinggi, sebuah kondisi yang oleh para analis militer disebut sebagai "darurat amunisi diam-diam."
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigjen Reza Talaei-Nik, menyatakan bahwa Iran masih memiliki ribuan rudal balistik dan anti-kapal dengan fasilitas produksi yang tersebar. Iran tidak perlu menyerang duluan. Cukup bertahan, menutup Selat Hormuz, dan meluncurkan rudal ke pangkalan AS di Teluk maka AS akan kehabisan napas.
Jadi, ketika AS memperpanjang gencatan senjata, itu bukan karena kebaikan hati. Itu karena mereka tidak mampu secara logistik untuk memulai perang yang panjang.