- Istimewa
Menjaga Persatuan, Menguatkan Ketangguhan, Menuju Produktivitas di Tengah Badai Ketidakpastian
Medan, tvOnenews.com - Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) Tahun 2026 salah satu yang menarik untuk dikaji yakni tentang tekanan-tekanan global. Secara nyata, kita melihat tekanan-tekanan meningkat di berbagai sektor, stres muncul, yang menunjukkan kita saat ini sedang dalam mode bertahan terhadap gelombang krisis tersebut. Kondisi saat ini memaksa kita untuk mengatur strategi agar bisa tetap hidup dan bertahan (survive dan sustain) dan memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage).
Sumber daya alam dan sumber daya manusia merupakan prediktor utama untuk kedua tujuan tersebut. Terkait sumber daya alam, retorika bahwa Indonesia adalah negara kaya dan memiliki SDA melimpah tidak lagi cukup. Kita perlu secara kritis dan inovatif mengelola dan memanfaatkan SDA untuk tujuan hidup dan bertahan serta mencapai keunggulan kompetitif tadi. Hilirisasi di bidang energi, pangan, dan teknologi adalah prioritas mencapai kemandirian dan kesejahteraan. Di sisi lain, pada masa-masa ketidakpastian ini, SDM merupakan faktor utama penggeraknya, yaitu SDM yang berintegritas, punya rasa kebangsaan yang tinggi, dan kompeten dalam setiap bidangnya.
Pandangan tersebut juga diperkuat dari berbagai gagasan yang berkembang dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026. Salah satu isu strategis yang mengemuka adalah perubahan iklim yang kini tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi telah berkembang menjadi tantangan multidimensi yang memengaruhi ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, keberlanjutan ekosistem, hingga kesejahteraan masyarakat. Karena itu, membangun ketangguhan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus menjaga keseimbangan antara pembangunan, kelestarian sumber daya alam, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.
Perubahan pola curah hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, kebakaran hutan dan lahan, serta degradasi ekosistem telah memberi dampak terhadap produktivitas sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari ketahanan lingkungan. Oleh karena itu, hilirisasi sumber daya alam, pengelolaan hutan secara berkelanjutan, rehabilitasi lahan, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, serta kebijakan yang berpijak pada sains perlu berjalan beriringan dengan pembangunan SDM yang berintegritas, adaptif, dan inovatif. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya mampu bertahan menghadapi berbagai krisis global, tetapi juga memiliki daya saing yang berkelanjutan.
Mengapa Makna Persatuan dan Berbangsa Perlu Dikuatkan Lagi?
Sejarah membuktikan kepada kita, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, karena tidak dimungkinkan pada masa krisis sulit terprediksi ini kita hanya bergantung pada satu orang atau satu bidang saja. Orkestrasi seluruh SDM dalam perusahaan maupun SDM di NKRI seharusnya menjadi hero-hero bagi bangsa ini hingga kita tetap bisa bertahan dan tidak menjadi korban dalam ketidakstabilan ekonomi dan keamanan dunia.
Sejarah mengajarkan bahwa bangsa ini pernah jatuh bukan karena kurang sumber daya, tetapi karena retak dari dalam — dikoyak pengkhianatan, diadu domba, dan kehilangan kepercayaan. Maka peran penting yang perlu dilakukan, khususnya pada bidang Psikologi Pengembangan Sumber Daya Manusia adalah:
1. Membangun Produktivitas SDM untuk Kemandirian Ekonomi dengan Semangat Gotong Royong
Negara ini harus efisien namun tetap produktif, dan fokus pada yang esensial. Human capital dapat membantu memetakan peran kritikal, mendesain ulang kerja, mengelola skenario tenaga kerja, dan mendorong efisiensi. Targetnya tidak hanya memprioritaskan penghematan jangka pendek, tetapi menjaga kapabilitas manusia agar kita tetap bisa berlari bersama, bukan saling meninggalkan.
Bahu-membahu memberikan kontribusi terbaik sesuai kemampuan secara bergotong royong. Mindset yang positif dan optimis harus tetap dikuatkan dengan teladan para pemimpin bangsa di berbagai bidang. Kita harus mau mengakui masalah yang dihadapi, berani menghadapinya, bangkit, dan bahkan melenting untuk berinovasi lebih tinggi dari masalah-masalah tersebut. Tidak berbuat atau berpikir negatif dan pesimis hanya akan meruntuhkan kekuatan bangsa.
Kita pernah berada dalam posisi perjuangan ideologi dan berhasil melewatinya. Karena itu, dorongan untuk optimis dan percaya diri terhadap kemampuan sendiri menjadi sangat mutlak untuk tetap hidup, bertahan, mencapai produktivitas, dan mewujudkan kemandirian ekonomi.
2. Menjaga Kepercayaan dan Komunikasi dalam Krisis
Dalam keadaan ketidakpastian, dibutuhkan komunikasi yang jujur, proses yang adil, dan kepemimpinan yang kuat sehingga kepercayaan tetap terjaga. Saat keputusan-keputusan sulit tak terhindarkan, kepercayaan menjadi aset yang sangat penting. Komunikasi yang buruk merusak semangat, memicu resistensi, dan mendorong orang-orang terbaik pergi.
Integritas pemimpin adalah cermin integritas bangsa. Teladan pemimpin sebagai penjaga persatuan dan semangat kebangsaan perlu selalu diingatkan. Di sisi lain, informasi yang kita cari atau terima perlu diverifikasi kepada sumber-sumber yang sah agar kesimpangsiuran informasi atau bahkan hoaks tidak menjadi pemecah-belah kita dalam krisis. Kepercayaan membangun semangat dan daya juang sehingga harapan untuk masa depan yang lebih baik di negeri ini tetap terjaga.
3. Membangun Resiliensi dan Kesehatan Mental
Survival mode mudah berubah menjadi burnout mode dan SDM menjadi apatis. Masyarakat kita tidak hanya memikul tekanan kerja, tetapi juga tekanan keluarga, finansial, ketakutan kehilangan pekerjaan, dan masa depan yang terasa kabur.
Deteksi dini stres, desain ulang tempat kerja yang sehat dan layak, serta dukungan kesehatan mental perlu diperkuat agar seluruh lapisan masyarakat dan SDM kita dapat menjalani transisi krisis ini. Karena menjaga satu orang SDM hari ini sama dengan menjaga satu keluarga Indonesia. Menjaga satu perusahaan berarti menjaga satu simpul ekonomi bangsa.
Dalam krisis, efisiensi ekonomi memang penting. Namun tanpa kepercayaan dan perlindungan kapabilitas manusia, kita justru menggerogoti organisasi dari dalam. Sama seperti sejarah: penjajah tidak menang karena lebih kuat, tetapi karena kita mudah dipecah.
Karena itu, dalam keadaan survival, persoalannya bukan hanya memangkas biaya dan mengencangkan ikat pinggang, tetapi juga melindungi manusia, merawat kepercayaan, menjaga persatuan, dan menyiapkan seluruh masyarakat di NKRI untuk bangkit bersama menuju kesejahteraan.