- dok.sosial media X
Membaca Kepemimpinan NU Menjelang Muktamar 2026
(Artikel Opini Ini Ditulis Cendhy Vicky V, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama (NU) dan Alumni UIN Syarif Hidayatullah)
tvOnenews.com - Jelang perhelatan akbar muktamar organisasi Islam terbesar dunia Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-30 Agustus 2026, konstelasi pemilihan semakin menarik dan sengit. Pada tingkat Tanfidziyah atau pelaksana keputusan organisasi dalam hal ini adalah ketua umum. Banyak figur-figur baru yang muncul.
Sebaliknya pada tingkat Rais Syariah, khususnya Rais Aam, tidak banyak nama yang telah muncul sejak awal hingga saat ini. Tetapi ada satu nama yang membuat penulis tidak perlu tidak ragu untuk yakin memilih figur yang tepat untuk posisi tersebut. Yakni Buya Kiai Said Aqil Siradj. Figur Kiai Said Aqil memiliki momentum yang pas dengan portofolio yang sangat matang dan segudang pengalaman. Tentu juga dengan alasan adab dan menghormati figur panutan, jam’iyah, sepuh, dan guru bangsa lainnya, penulis tidak akan membahas atau lebih jauh mengkomparasi figur-figur terkait. Semoga pembaca dapat mengerti.
Ditengah kompeksitas permasalahan NU yang seabrek, baik yang bersifat administratif, ekonomi, politik hingga etik, kiranya tidak berlebihan jika penulis mengatakan ini adalah era “paling gelap” NU sepanjang sejarah. Pun banyak sekali nahdliyin dengan lintas latar belakang (baik aktivis, peneliti, akademisi, hingga kiai sepuh) mengatakan hal senada. Dan yang paling membuat miris adalah sengkarut masalah ini terjadi pada masa hari ulang tahun (harlah) NU persis satu abad. Astaghfirullah.
Sebagai nahdliyin yang lahir dan tumbuh dalam dialektika organisasi-organisasi dengan semangat ahlussunnah wal jama’ah (aswaja), tentu kita harus berkomitmen untuk menutup buku polemik ini dan bangkit pada era yang baru. Masa lalu kelam harus menjadi pukulan telak internal, agar situasi semacam ini tidak boleh terulang. Tentu saya kira semua orang memiliki perasaan dan pikiran yang sama.
Maka dari itu mendukung dan memilih secara personal adalah salah satu langkah kecil nan berarti untuk berharap pada yang terbaik. Jelas, karena pemilik suara ‘real’ nantinya pada gelanggang muktamar di Tambakberas adalah para cabang NU. Namun bukankah seribu langkah, selalu dimulai pada langkah pertama? Siapapun tentu bisa berharap dan berdoa yang terbaik.
Kedalaman Ilmu dan Keluasan Sikap
Figur yang akrab disapa dengan Buya Said Aqil Siradj ini dikenal sebagai ulama yang memiliki basis keilmuan klasik (turats) yang sangat kuat sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Pendidikan beliau di Pesantren Kempek, kemudian melanjutkan studi hingga doktoral di Universitas Umm al-Qura Makkah, membentuk karakter intelektual yang memadukan fikih, ushul fikih, kalam, tasawuf, filsafat Islam, dan sejarah peradaban Islam.
Dalam berbagai karya dan ceramahnya, pengasuh pesantren luhur At Tsaqofah Jagakarsa-Jakarta Selatan ini, menegaskan bahwa ahlussunnah wal jamaah bukan sekadar mazhab fikih, melainkan manhaj al-fikr (metodologi berpikir) yang mengedepankan: Pertama tawassuth (berarti bersikap moderat. Seseorang menghindari sikap yang berlebihan atau ekstrem). Kedua tawazun, yang berarti keseimbangan. Nilai ini mengajarkan untuk menjaga keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya antara hak dan kewajiban, kepentingan pribadi dan masyarakat, serta urusan dunia dan akhirat.
Ketiga tasamuh, berarti toleransi. Sikap menghargai dan menghormati perbedaan pendapat, keyakinan, budaya, atau kebiasaan orang lain tanpa harus meninggalkan prinsip yang diyakini. Dan keempat i'tidal (berarti adil dan lurus atau tegak pada kebenaran. Nilai ini menekankan sikap berlaku adil, proporsional, tidak memihak secara tidak semestinya).
Pandangan tersebut tampak jelas dalam bukunya Ahlussunnah wal Jama'ah dalam Lintas Sejarah (1997), yang menjelaskan bahwa Aswaja merupakan metodologi berpikir yang moderat dan adaptif terhadap perubahan zaman. Pemikiran ini juga menjadi fondasi gagasan Islam Nusantara yang menurut Said Aqil bukan agama baru, melainkan cara keberislaman yang mampu berdialog dengan budaya lokal tanpa mengubah akidah maupun syariat.
Sebagai santri-intelektual, Buya Said Aqil, adalah representasi dari apa yang Jurgen Habermas bayangkan dalam Theory of Communicative Action (1981). Bagi Habermas intelektual yang matang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi mampu membangun dialog rasional dengan berbagai kelompok. Karakter ini sangat tampak pada Said Aqil yang mengembangkan dialog antaragama, dialog kebangsaan, serta dialog intra umat Islam. Ini tercermin bagaimana Buya Said Aqil sering kali melakukan dialog lintas agama. Termasuk pada kelompok minoritas yang saat ini kurang mendapatkan tempat “sosial” yang layak. Seperti Syiah dan Ahmadiyah.
Bahkan yang menarik adalah dengan segala umpatan dan hinaan yang pernah menghujam Kiai yang berdomisili di Ciganjur ini, ia tidak ambil pusing dan repot ketika dituduh “syiah”. Dalam satu ceramah yang pernah penulis ikuti di Magelang, Buya Said Aqil merespon pertanyaan senada dengan jawaban ala Gus Dur, “gitu aja kok repot”.
Tegas dan Berani
Sebagai Ketua Umum PBNU (2010–2021), Kiai Said Aqil dikenal memiliki sikap yang sangat tegas terhadap isu-isu yang sempat membuat publik resah dan kehilangan keakraban publik. Yakni radikalisme, ekstremisme agama, terorisme, ideologi transnasional, dan politik identitas.
Beliau berulang kali menyampaikan bahwa: “Islam bukan agama kekerasan.”
Dalam berbagai forum nasional maupun internasional, beliau menolak penggunaan agama sebagai alat politik yang memecah bangsa. Menurut Said Aqil, mempertahankan NKRI merupakan bagian dari implementasi maqashid syariah. Sikap tersebut tercermin dalam berbagai ceramah, wawancara, dan kajian mengenai moderasi beragama.
Sikap yang Buya Said Aqil tunjukan adalah keteladanan charismatic leadership ala Max Weber yang diuraikan dalam Economy and Society (1922). Bagi Weber, pemimpin karismatik memiliki keberanian moral untuk mengambil sikap meskipun menghadapi resistensi. Karakter tersebut tampak pada Said Aqil ketika secara terbuka mengkritik kelompok radikal maupun praktik keberagamaan yang dinilainya bertentangan dengan prinsip Islam rahmatan lil-'alamin. Dan bertentangan dengan suatu solidaritas nasional yang bernama Islam Nusantara.
Teduh dan Harmoni
Salah satu ciri paling menonjol dari dakwah, alumni pesantren Lirboyo dan Universitas Umm Al-Quro (Ummul Quro) Makkah, adalah membangun harmoni. Beliau sering mengutip dan menguraikan dalam banyak kesempatan konsep: Pertama, rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam). Istilah ini menggambarkan bahwa ajaran Islam membawa kasih sayang, kedamaian, dan kebaikan bagi semua makhluk. Kedua, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam). Nilai ini mengajarkan agar sesama Muslim saling menghormati, dan menjaga persatuan.
Ketiga ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan). Maksudnya adalah semangat persaudaraan antarsesama warga negara, tanpa membedakan suku, agama, dan ras. Keempat, ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Nilai ini menekankan bahwa semua manusia adalah satu keluarga besar sehingga harus saling menghormati, menghargai hak-hak sesama, dan hidup berdampingan secara damai.
Konsep-konsep tersebut menjadi fondasi gagasan moderasi beragama yang kemudian banyak dikaji dalam penelitian akademik. Selain itu menjadi fondasi dari bagaimana bangunan wacana Islam Nusantara menjadi makin kuat dan kokoh. Dalam konteks itu, Kiai Said Aqil melakukan apa yang Johan Galtung sebut sebagai positive peace teori, dalam karyanya yang berjudul Peace by Peaceful Means (1996). Kiai Said Aqil tidak hanya mengajak masyarakat menghindari konflik, tetapi juga membangun struktur sosial yang adil, toleran, dan harmonis.
Itulah yang beliau lakukan sebagai inisiator Majelis Dzikir Hubul Waton (MDHW)—perkumpulan untuk berdzikir kepada Allah yang juga menanamkan dan menguatkan nilai cinta tanah air—dimana sebagai sebuah wadah dan lembaga, ketua PBNU saat itu, melakukan gerakan massif dan struktural untuk menjaga harmoni bangsa.
Lembut dan Santun
Dalam tradisi dakwah, ulama cum intelektual ini lebih memilih pendekatan dengan gaya persuasif, edukatif, dialogis dibandingkan pendekatan konfrontatif. Hal ini menjadi penting jika melihat konteks situasi beberapa tahun silam umat Islam Indonesia yang sangat “haus” dengan gaya beragama dan pengajian yang sarat dengan emosi, perasaan yang membara dan dakwah dengan suara yang melengking. Itulah yang membuat umat menjadi kurang rileks dalam beragama. Beragama saat itu, menjadi suatu sikap politis yang sangat kental.
Itulah yang membedakan dengan Kiai Said. Beliau sering menegaskan bahwa dakwah Rasulullah dibangun pada tiga unsur utama. Pertama hikmah (kebijaksanaan atau kearifan), mau'izhah hasanah (nasihat yang baik), mujadalah billati hiya ahsan (Artinya berdialog atau berdiskusi dengan cara yang paling baik).
Bagi pribadi yang cukup sering mengikuti pengajiannya di Ciganjur, penting untuk digarisbawahi adalah, bahkan ketika menyindir suatu figur atau person, atau situasi tertentu, yang dapat berkonotasi negatif ke pihak tertentu, Buya sering kali menggunakan kata atau kalimat kiasan. Supaya pada jamaah tidak langsung mengetahui siapa orang atau konteks yang ia maksud. Kisah ini kiranya dapat diverifikasi oleh nahdliyin yang belum pernah merasakan hikmah pengajian itu. Sungguh tinggkat keadabaan yang luar biasa.
Selain itu pendekatan tersebut tercermin dalam ceramah-ceramahnya yang lebih banyak menjelaskan argumentasi ilmiah daripada menyerang pihak lain secara personal. Tasawuf menurut Said Aqil menjadi basis pembentukan akhlak sosial dan toleransi. Gagasan ini tampak dalam tulisannya mengenai tasawuf sebagai fondasi tasamuh (toleransi).
Komunikasi dakwah yang Kiai Said Aqil bangun tentu dengan suasana penuh empati, penghargaan, dan penerimaan. Jika kita mendengar pengajian-pengajiannya. Maka kita sangat merasakan pengaruh pemikiran Gus Dur yang kental dalam landscape kemanusiaan, kebangsaan dan keagamaan Kiai Said Aqil. Dapat dikatakan bahwa Gus Dur dan Kiai Said adalah figur dua era dengan satu leksikon pengetahuan yang sama.
Nilai tersebut sangat sesuai dengan model dakwah Kiai Said Aqil yang mengedepankan pendekatan humanis. Nilai humanis adalah jenis komunikasi yang menurut Carl Rogers—Person Centered—dalam On Becoming a Person (1961) bahwa komunikasi paling efektif efektif dibangun melalui: empati, penghargaan, dan penerimaan.
Ulama untuk Jam’iyah
Kiai Said Aqil adalah figur yang memandang bahwa ulama bukan hanya penjaga ilmu agama, tetapi juga penggerak organisasi, pemberdayaan masyarakat, dan penjaga keutuhan bangsa. Selama memimpin PBNU, beliau mengembangkan banyak sekali program dan wacana yang sungguh bermanfaat. Diantaranya penguatan Aswaja, Islam Nusantara, moderasi beragama, penguatan pesantren, dan diplomasi internasional NU.
Beliau juga menempatkan NU sebagai jam'iyah diniyyah ijtima'iyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) yang memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan. Dalam perspektif Said Aqil, ulama harus hadir di tengah masyarakat sebagai pembimbing, pelayan umat, dan perekat bangsa. Pandangan ini konsisten dengan pemikirannya tentang pluralisme, aswaja, dan Islam Nusantara.
Sejalan dengan pemikiran Talcott Parsons tentang structural functionalism (The Social System-1951). Parsons menjelaskan bahwa setiap institusi sosial memiliki fungsi menjaga integrasi masyarakat. Sebagai pemimpin organisasi keagamaan, Said Aqil menjalankan fungsi integratif tersebut melalui NU sebagai wadah pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan penguatan persatuan bangsa.
Sebagai salah satu contoh nyatanya adalah, bahwa Kiai Said pernah membuat ucapan yang menohok, untuk mengajak rakyat menolak membayar pajak pada 2012. Hal ini dikarenakan banyak sekali kasus korupsi yang merajarela. Kurang lebih beliau mengatakan “jika uang pajak dikumpulkan hanya untuk dikorupsi, lebih baik rakyat tolak membayar pajak.”
Itulah yang dimaksud bahwa ulama untuk jam’iyah. Bukan sebaliknya.
Penutup, setelah uraian mengenai tema atau poin yang penulis bedah pada figur Buya Kiai Said, alangkah baiknya silakan para pembaca bandingan dengan figur yang lain. Apakah setara? Sebanding? Hemat penulis kiranya tidak ada karena bagaimanapun kapasitas dan kapabilitas figur Kiai Said, terletak bukan pada pangkat atau jabatan yang bersifat politik.
Tetapi pada keluasan ilmu, ketajaman berfikir, kelugasan ucapan, keberanian sikap, kerendahan hati, dan kedalaman adab. Kepantasan Kiai Said Aqil bukan karena sesuatu yang muncul dari luar. Tetapi dari pikiran dan hati. Itulah yang membuatnya menjadi pantas dalam memimpin NU. Teladan bagi umat dalam beragama dan berbangsa.
Wassalam.