- Antara
Kisah Yusuf untuk Nikel Indonesia
Oleh: Septian Hario Seto
Dewan Ekonomi Nasional
Dalam Al Quran dan Kitab Kejadian, dikisahkan nasihat Nabi Yusuf kepada penguasa Mesir ketika menafsirkan mimpinya tentang tujuh bulir gandum kering yang memakan tujuh bulir gandum hijau. Tafsirnya adalah tujuh musim panen besar lalu diikuti tujuh musim paceklik, maka jangan semuanya dikonsumsi habis pada masa panen. Ketika paceklik datang, Mesir selamat.
Kisah di atas adalah pelajaran paling tua mengenai pengelolaan sumber daya alam. Hal ini relevan dengan posisi Indonesia sebagai pemilik cadangan terbesar dan produsen dua pertiga nikel di dunia. Jika produksi terlalu banyak, harga jatuh; terlalu sedikit harga melonjak. Harga nikel yang terlalu tinggi akan mendorong konsumen nikel beralih kepada bahan lain, seperti saat industri baterai litium beralih dari katoda nikel ke litium besi fosfat (LFP) setelah lonjakan harga nikel tahun 2022. Kunci pengelolaan suplai adalah memahami kebutuhan pasar, dan ini bukan hal yang mudah.
Pengelolaan Suplai
Pada 2020, produksi Indonesia sekitar 770-800 ribu ton atau 30 persen dari suplai nikel dunia, lalu melonjak menjadi 2,4-2,5 juta ton pada tahun 2025 atau 65 persen dari suplai dunia. Namun, permintaan dunia tidak mampu menyerapnya. Menurut International Nickel Study Group (INSG), pasar nikel dunia mengalami surplus sebesar 175 ribu ton, 116 ribu ton, dan 283 ribu ton di 2023, 2024 dan 2025.
Surplus itu membuat persediaan nikel dunia mencapai sekitar 500 ribu ton di 2025, setara 48 hari konsumsi dunia yang mencapai 3,8 juta ton. Sebagai perbandingan, aluminium dengan total konsumsi sebesar 77 juta ton di 2025, hanya memiliki persediaan kurang dari 5 hari konsumsi. Akibat surplus, harga nikel dunia terus turun sejak 2023. Harga rata-rata nikel di London Metal Exchange (LME) pada tahun 2023 adalah US$ 21.500/ton, lalu turun menjadi US$ 16.818/ton di tahun 2024, dan kemudian menjadi US$ 15.160/ton di 2025.
Kementerian ESDM kemudian mengendalikan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel, yang menjadi basis kuota produksi, untuk tahun 2026. Produksi bijih nikel Indonesia sebesar 313,7 juta ton di 2025 diperkirakan akan turun menjadi sekitar 270-295 juta ton pada tahun 2026.
Pasar merespon positif terhadap kebijakan tersebut. Harga rata-rata nikel periode Januari-Juli 2026 mencapai US$ 17.600, naik 16 persen dibandingkan rata-rata tahun 2025. Nilai ekspor nikel (dalam logam nikel) dan turunannya naik 15 persen menjadi US$ 22,2 miliar periode Januari-Juli 2026, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meskipun volume (dalam logam nikel) turun 4-5 persen.
Pengendalian RKAB nikel juga diikuti dengan menyempitnya diskon harga nickel pig iron (NPI) dan mixed hydroxide precipitate (MHP), dua produk utama ekspor nikel Indonesia, terhadap harga nikel LME. Pada 2024, diskon NPI dan MHP terhadap LME masing-masing adalah 30 persen dan 23 persen, lalu turun menjadi 21 persen dan 10 persen pada periode Januari-Juli 2026. Produk ekspor nikel Indonesia kini dihargai lebih tinggi oleh pasar. Tujuan pengendalian RKAB ini bukan untuk menaikkan harga, melainkan agar produksi sesuai kebutuhan pasar. Harga adalah fungsi keseimbangan antara suplai dan permintaan.
Bercermin pada Tiongkok
Tiongkok juga mengalami masalah oversuplai. Pada Juli 2025, Pemerintah Tiongkok mengumumkan kampanye anti-involusi. Involusi (neijuan) berarti perlombaan meningkatkan produksi tanpa menghasilkan imbal hasil yang sepadan. Di sektor baja dan panel surya, ekspansi produksi perusahaan-perusahaan Tiongkok menjadikan pasar kelebihan pasokan, sehingga banyak perusahaan menjual produknya di bawah biaya produksi. Implementasi ini tidak mudah karena Pemerintah Tiongkok tidak bisa memaksa perusahaan swasta untuk menurunkan produksinya. Namun, dalam kasus nikel di Indonesia, Kementerian ESDM memiliki instrumen RKAB untuk mengendalikan produksi.
Kekhawatiran pengendalian RKAB menurunkan profitabilitas smelter juga belum terbukti. Setidaknya berdasarkan laporan dua perusahaan smelter yang tercatat di bursa, Nickel Industries dan Merdeka Battery Materials, persentase pertumbuhan laba per ton sebelum depresiasi, pajak dan beban bunga untuk produk NPI dan MHP pada semester satu 2026 mencapai dua digit dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Salah satu perusahaan tersebut juga terafiliasi dengan produsen NPI terbesar di dunia.
Pengendalian RKAB juga perlu diikuti dengan transparansi dan tata kelola yang baik, terutama kriteria yang jelas mengenai alokasi kuota untuk perusahaan tambang, agar kuota tidak menjadi sumber rente yang dapat mengurangi kredibilitas kebijakan.
Dengan manajemen suplai yang baik melalui pengendalian RKAB, pertumbuhan permintaan nikel dunia dapat dipenuhi terlebih dahulu dari persediaan yang menumpuk, sehingga level persediaan kembali normal, dan cadangan nikel kita pun bertahan lebih lama. Setiap ton kelebihan produksi nikel yang kita jual murah saat ini, adalah kekayaan yang hilang untuk anak cucu kita di masa depan. Seperti nasihat Nabi Yusuf ke penguasa Mesir, biarkanlah bulir gandum tetap pada tangkainya. Bukan sebanyak apa nikel yang bisa kita gali saat ini, tapi kapan nikel itu kita gali agar hasilnya optimal bagi Indonesia, untuk saat ini maupun di masa yang akan datang.
(chm)