Bahlil Ungkap Cara Baru Atur Batu Bara dan Nikel, Produksi Tak Lagi Jadi Patokan Utama
- Sekretariat Presiden
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan langkah pemerintah menata tata kelola komoditas pertambangan, khususnya batu bara dan nikel.
Penataan dilakukan melalui pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) serta mekanisme ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (SDI) untuk sejumlah komoditas.
Bahlil mengatakan kebijakan tersebut diarahkan agar harga komoditas Indonesia tidak sepenuhnya ditentukan oleh pihak dari luar negeri. Menurut dia, selama ini harga nikel dan batu bara Indonesia banyak dipengaruhi pihak luar sehingga harga komoditas mineral belum memberikan hasil yang optimal.
Ia menyebut pemerintah mulai mengatur keseimbangan antara pasokan dan permintaan (supply and demand) dalam pengelolaan komoditas pertambangan.
"Harga nikel ditentukan oleh luar. Harga batu bara ditentukan oleh luar. Sekarang baru mulai kita tata. Alhamdulillah, dengan penataan terhadap pengaturan supply and demand, harga batu bara Indonesia sekarang sudah mulai ada marwahnya di mata internasional," ujar Bahlil di Balai Sudirman, Jakarta, Senin (21/9/2026).
Menurut Bahlil, penataan tersebut juga mulai memberikan perubahan pada komoditas nikel.
"Harga nikel sekarang mulai tidak lagi dipermainkan secara leluasa oleh oknum-oknum tertentu. Inilah sebenarnya tujuan kita," sambungnya.
Produksi Batu Bara Turun, Penerimaan Negara Naik
Bahlil kemudian menyoroti kondisi produksi batu bara Indonesia yang tahun ini lebih rendah dibandingkan 2025. Meski demikian, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor batu bara justru meningkat.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi bukan menjadi satu-satunya ukuran dalam pengelolaan sektor pertambangan.
"Artinya, kita ingin produksinya tidak terlalu banyak, tapi pendapatan negara itu yang paling penting," kata Bahlil.
Data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM menunjukkan produksi batu bara Indonesia sepanjang 2025 mencapai 817,48 juta ton.
Sementara itu, produksi hingga Juli 2026 tercatat 423,71 juta ton. Dengan capaian tersebut, rata-rata produksi batu bara pada 2026 sekitar 60,5 juta ton per bulan.
Angka tersebut berada di bawah rata-rata produksi sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 68,1 juta ton per bulan.
Load more