- ANTARA/REUTERS/Eduardo Munoz
Memburu Perempuan Reformis di Jantung Organisasi Dunia
Mengutip Aboriginal Leadership in Global Diplomacy (2023), diplomat yang berusia 53 tahun, sekaligus yang termuda dari semua kandidat ini, adalah perempuan yang lahir dan besar dari lingkungan komunitas adat Amerindian (suku Lokono/Arawak) di wilayah terisolasi Sungai Moruca (Santa Rosa-Guyana). Ayah dari Carolyn adalah seorang tokoh adat setempat yang aktivitas sehari-harinya di hutan dan sungai.
Secara akademik, Carolyn memiliki keahlian bidang yang beragam. Dari diploma tentang pekerjaan sosial, sarjana bisnis, dan magister bidang hubungan internasional. Perjalanan hidup dan latar belakangnya semakin dipertegas dengan terafiliasinya ia, dengan partai sosialis demokrat (kiri-tengah) di Guyana. Yakni People's Progressive Party/Civic (PPP/C).
Hal yang paling menarik sebagai awal karirnya melejit adalah, Carolyn diangkat sebagai Menteri Urusan Adat pada 2001, saat masih berumur 28 tahun. Bahkan boleh dibilang ia membuat suatu trobosan kebijakan dengan keluarnya regulasi tentang reformasi hak tanah masyarakat adat dan penyusunan Amerindian Act 2006. Karir politiknya semakin matang dengan didapuk sebagai Menteri Luar Negeri dari 2008-2015.
Melansir Women in Politics in the Caribbean: Case Studies from Guyana and Trinidad (2018), Pada 2015, Carolyn ditunjuk sebagai Koordinator Aliansi Parlemen FAO yang bertugas untuk mendorong legislasi anti-kelaparan global. Setelah itu ia kembali ditugaskan pada 2020 menjadi dubes Guyana untuk PBB. Prestasinya di PBB untuk Guyana adalah keberhasilan membawa negaranya menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB (2024-2025).
Sebagai seorang politisi dan diplomat, Carolyn memiliki berbagai penghargaan dan penghormatan bergengsi. Pertama penghargaan diplomatik tertinggi dari Pemerintah Chile (2013) atas kontribusi integrasi Amerika Latin: Grand Cross of the Order of Bernardo O'Higgins. Kedua penghargaan kehormatan dari Argentina (2013), atas kerja sama bilateral dan diplomasi kawasan: Grand Cross of the Order of the General Liberator of San Martin. Ketiga penghargaan komunitas dari tempat kelahirannya pada 2013, di Santa Rosa atas dedikasi terhadap pengangkatan kesejahteraan masyarakat adat
Amerindian: Santa Rosa Heroes Award.
Sebagai kandidat kuat, Carolyn memiliki 3 visi utama. Mengutip minfor.gov.gy, Pertama demokratisasi dewan keamanan. Carolyn menekankan bahwa Dewan Keamanan PBB saat ini melanggengkan kelumpuhan akibat hak veto P5. Bagi Carolyn, dunia tidak boleh menjadi sandera dari keengganan sebagian kecil negara untuk bertindak ketika hukum internasional dilanggar secara terang-terangan.