- FIFA
Presiden FIFA Gianni Infantino Buka Suara Soal Berbagai Polemik Piala Dunia 2026: Kami Mencoba Menyelesaikan Semuanya
tvOnenews.com - Piala Dunia 2026 akhirnya resmi bergulir di Amerika Utara. Turnamen sepak bola terbesar di dunia itu dibuka melalui pertandingan antara Meksiko dan Afrika Selatan pada Jumat (12/6/2026) pukul 02.00 WIB.
Namun di tengah kemeriahan pesta sepak bola empat tahunan tersebut, sorotan justru tertuju pada berbagai persoalan yang muncul sebelum bola pertama ditendang.
Sejak hitung mundur menuju turnamen dimulai, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 tidak lepas dari kontroversi.
Mulai dari harga tiket yang dinilai terlalu mahal, persoalan visa sejumlah peserta, hingga ketatnya kebijakan imigrasi di Amerika Serikat yang berdampak langsung terhadap pemain, ofisial, bahkan perangkat pertandingan.
Situasi tersebut memunculkan kritik dari berbagai pihak yang mempertanyakan kesiapan salah satu negara tuan rumah dalam menyambut ajang berskala global tersebut.
Di tengah derasnya kritik yang mengarah kepada FIFA, Presiden FIFA Gianni Infantino akhirnya memberikan tanggapan.
Orang nomor satu di federasi sepak bola dunia itu mengakui adanya sejumlah kendala menjelang turnamen, tetapi menegaskan bahwa FIFA memiliki keterbatasan dalam mengintervensi kebijakan yang menjadi kewenangan negara tuan rumah.
Gelombang Masalah Warnai Persiapan Piala Dunia 2026
Rentetan persoalan yang mengiringi Piala Dunia 2026 bermula dari keluhan para suporter terkait harga tiket pertandingan.
Sistem penjualan yang diterapkan FIFA disebut membuat harga tiket melambung jauh di atas perkiraan banyak penggemar.
Belum selesai persoalan tiket, kontroversi lain muncul dari sektor administrasi perjalanan. Timnas Iran sempat menghadapi kendala untuk memasuki wilayah Amerika Serikat akibat persoalan visa.
Kasus tersebut tidak terlepas dari hubungan diplomatik yang memanas antara kedua negara menyusul konflik bersenjata yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Meski masalah visa Iran akhirnya dapat diselesaikan, tantangan berikutnya kembali muncul. Beberapa anggota delegasi dan ofisial dari negara peserta dilaporkan mengalami kendala saat melewati pemeriksaan imigrasi Amerika Serikat.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah penyerang Timnas Irak, Aymen Hussein, serta fotografer tim Talal Salah yang sempat ditahan selama berjam-jam oleh petugas imigrasi.
Peristiwa tersebut memicu pertanyaan mengenai kesiapan sistem penerimaan tamu internasional menjelang turnamen terbesar FIFA itu.
Wasit Terbaik Afrika Gagal Bertugas
Kontroversi terbaru yang mencuat menjelang kick-off Piala Dunia 2026 adalah penolakan masuk terhadap wasit asal Somalia, Omar Artan.
Padahal, Artan merupakan peraih predikat wasit terbaik Afrika tahun 2025 dan telah dijadwalkan untuk bertugas pada ajang tersebut.
Penolakan itu membuat Artan gagal ambil bagian dalam Piala Dunia 2026. Kasus tersebut kemudian memancing reaksi luas karena menyangkut perangkat pertandingan yang telah mendapatkan penugasan resmi dari FIFA.
Situasi ini juga membuat FIFA menjadi sasaran kritik. Banyak pihak menilai federasi sepak bola dunia seharusnya mampu menjamin kelancaran mobilitas seluruh elemen yang terlibat dalam turnamen, termasuk wasit dan ofisial.
Namun, FIFA menegaskan bahwa kewenangan terkait izin masuk dan kebijakan perbatasan tetap berada di tangan pemerintah masing-masing negara.
Gianni Infantino: FIFA Bukan Penguasa Dunia
Dalam konferensi pers yang dikutip dari RTE, Gianni Infantino mengaku prihatin atas nasib Omar Artan yang gagal menjalankan tugasnya di Piala Dunia 2026.
"Sangat disayangkan apa yang terjadi dengan wasit dari Somalia (Omar Artan)," kata Infantino.
Meski demikian, pria kelahiran Swiss tersebut menegaskan bahwa FIFA tidak memiliki kendali penuh atas seluruh aspek penyelenggaraan turnamen, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan negara tuan rumah.
"Sekali lagi, kami tidak mengendalikan segalanya. Kita mencoba berdiskusi, kita berbicara. Terkadang lebih baik juga untuk bersantai."
Ia menambahkan bahwa FIFA terus berupaya mencari jalan keluar atas setiap persoalan yang muncul. Namun menurutnya, tekanan dan kemarahan tidak akan membantu proses penyelesaian masalah.
"Kami mencoba menyelesaikan semuanya, (tetapi) berteriak dan membentak, itu kebalikan dari menemukan solusi."
Infantino kemudian menegaskan bahwa FIFA bukanlah lembaga yang memiliki kewenangan untuk mengatur pemerintahan atau aparat suatu negara.
"Kami selalu mencoba menemukan solusi, (tetapi) kami bukanlah raja dunia yang dapat memerintah pemerintah, pasukan polisi."
"Kami adalah sebuah organisasi dengan sumber daya yang kita miliki untuk melakukan sebanyak mungkin," pungkasnya.
Terlepas dari berbagai kontroversi yang mewarnai persiapan turnamen, Piala Dunia 2026 tetap resmi dimulai. Edisi kali ini mencatat sejarah baru dengan melibatkan 48 negara peserta, meningkat 50 persen dibandingkan Piala Dunia 2022 yang hanya diikuti 32 tim.
Bertambahnya jumlah peserta membuat format kompetisi mengalami perubahan. Untuk pertama kalinya, fase gugur akan dimulai dari babak 32 besar.
Dengan skala yang lebih besar dari sebelumnya, FIFA berharap sorotan terhadap kontroversi di luar lapangan tidak mengalahkan kemeriahan pertandingan yang menjadi pusat perhatian miliaran penggemar sepak bola di seluruh dunia. (udn)