- REUTERS/Phil Noble
Mikel Arteta Disemprot usai Arsenal Gagal Juara Liga Champions 2025-2026: Seperti Permainan 80-an!
Jakarta, tvOnenews.com - Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, kena semprot dari pengamat sepak bola setelah kekalahan dari Paris Saint-Germain. Permainan di final Liga Champions membuat sejumlah pengamat tidak terkesan dengan pendekatan Arteta.
The Gunners sempat berada di atas angin dalam duel di Puskas Arena, Budapest, Hungaria pada Minggu (31/5/2026) dini hari WIB. Kai Havertz membuka skor berkat golnya pada menit keenam setelah memaksimalkan bola dari Leandro Trossard.
Namun Arsenal kemudian bermain bertahan di sepanjang laga. PSG sempat mengalami kesulitan, namun akhirnya menemukan celah pada menit ke-65 setelah wasit Daniel Siebert menunjuk titik putih karena pelanggaran Cristhian Mosquera terhadap Khvicha Kvaratskhelia.
Ousmane Dembele sukses menunaikan tugasnya sebagai eksekutor. Skor 1-1 kemudian tetap bertahan hingga waktu normal dan juga perpanjangan waktu berakhir.
Arsenal gagal meraih trofi setelah kalah 4-3 dalam adu penalti. Kegagalan Gabriel Magalhaes sebagai penendang terakhir mengakhiri impian mereka meraih trofi Si Kuping Besar pertama sepanjang sejarah klub.
Di sepanjang laga, PSG memang dominan. Catatan Opta bahkan memperlihatkan bahwa Arsenal hanya memenang 24,7 persen di sepanjang laga ini.
Mereka adalah tim dengan 11 pemain yang mencatatkan penguasaan bola terendah sejak Opta mencatat data pada 2003-2004 silam. Ini lebih rendah dari catatan mereka ketika kalah di final Liga Champions 2006 dari Barcelona, ketika mengakhiri duel dengan 10 orang.
Mantan gelandang Chelsea, Craig Burley, menyemprot Arteta atas performa Arsenal. Menurutnya, PSG jauh superior di atas segalanya ketimbang The Gunners.
“Mari kita uraikan secara gamblang, ketika mereka mencetak gol setelah enam menit, mereka mencoba bertahan hingga menit ke-90. Seandainya PSG yang mencetak gol setelah enam menit, mereka akan terus menyerang dan mencoba memenangkan pertandingan. Dan itulah kontras dalam cara kedua tim ini mendekati, tidak hanya final, tetapi juga sepak bola,” kata Burley kepada ESPN.
“Arsenal malah mundur dan mencoba bertahan selama 84 menit ditambah waktu tambahan. Itu sulit dilakukan. Upaya yang gagah berani dari Arsenal, tetapi dalam hal pertandingan sepak bola, PSG jauh lebih baik, bahkan dalam performa terbaik mereka sekalipun,” tambahnya.