news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Como 1907 lolos Liga Champions.
Sumber :
  • Como 1907

Como Terancam Sanksi FFP UEFA, Chelsea hingga Aston Villa Pernah Merasakan

Como mulai berada dalam radar aturan finansial UEFA setelah belanja besar dan tampil di Liga Champions. Klub milik Hartono terancam sanksi jika melanggar.
Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:27 WIB
Editor :

‎Jakarta, tvOnenews.com - Como mulai menghadapi tantangan baru setelah mencatatkan perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Klub asal Italia tersebut kini mulai berada dalam radar aturan finansial UEFA setelah untuk pertama kalinya memastikan tempat di kompetisi Eropa.

‎‎Situasi itu membuat Como harus lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan klub. Pasalnya, aturan Financial Fair Play (FFP) yang kini masuk dalam kerangka UEFA Financial Sustainability Regulations dapat memberikan sanksi kepada klub yang tidak memenuhi ketentuan.

‎‎Como memang belum mendapatkan sanksi dari UEFA. Namun, klub yang dimiliki keluarga Hartono itu diperkirakan akan mulai berada di bawah pengawasan UEFA pada musim 2026/2027 setelah tampil di Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah.

‎‎Perhatian terhadap Como tidak terlepas dari agresivitas mereka dalam membangun skuad. Pada bursa transfer musim panas 2026, Como bahkan telah menggelontorkan lebih dari 100 juta euro untuk mendatangkan sejumlah pemain demi menghadapi persaingan di level Eropa.

Nico Paz di Como
Sumber :
  • REUTERS/Daniele Mascolo

‎‎Salah satu transfer paling mencolok adalah Nico Paz. Como mengeluarkan 60 juta euro untuk mempermanenkan pemain asal Argentina tersebut dari Real Madrid, sebuah investasi besar yang turut memperlihatkan ambisi klub.

‎‎Namun, besarnya investasi bukan berarti Como otomatis melakukan pelanggaran. UEFA memiliki sejumlah mekanisme untuk menilai kondisi keuangan klub, termasuk aturan football earnings dan squad cost yang mengatur hubungan antara pengeluaran klub dengan pendapatan yang dimiliki.

‎‎Dalam regulasi UEFA saat ini, squad cost rule membatasi biaya skuad seperti gaji pemain, amortisasi transfer, dan sejumlah biaya agen hingga maksimal 70 persen dari pendapatan terkait klub. Sementara itu, football earnings rule juga mengatur batas kerugian yang dapat ditanggung klub dalam periode tertentu.

‎‎Como sendiri memiliki catatan kerugian yang cukup besar dalam beberapa periode keuangan terakhir. Menurut laporan Gazzetta dello Sport, kerugian konsolidasi Como mencapai sekitar 132 juta euro pada musim 2024/2025, meski kondisi tersebut juga berkaitan dengan fase ekspansi klub dan investasi besar yang dilakukan pemilik.

Pemain Como 1907 Alberto Moreno (kanan) saat duel dengan Juventus
Sumber :
  • REUTERS/Guglielmo Mangiapane

‎Meski demikian, Como memiliki modal lain untuk menghadapi pengawasan UEFA. Keluarga Hartono telah memberikan suntikan modal dalam jumlah besar dan laporan keuangan klub menunjukkan Como tidak memiliki utang bank, sehingga struktur pendanaan mereka berbeda dengan klub yang mengandalkan utang.

‎‎Karena itu, ancaman terhadap Como untuk saat ini lebih tepat disebut sebagai potensi pengawasan dan kemungkinan sanksi, bukan hukuman yang sudah dijatuhkan UEFA. Penilaian awal terhadap laporan keuangan Como untuk periode tiga tahun sebelumnya dijadwalkan dilakukan UEFA pada musim 2026/2027.

‎‎Como pun bukan klub pertama yang harus berurusan dengan ketatnya aturan finansial UEFA. Sejumlah klub besar Eropa bahkan sudah pernah menerima denda setelah dinilai tidak memenuhi persyaratan finansial yang ditetapkan.

‎‎Chelsea menjadi salah satu nama besar yang tersandung aturan tersebut. Pada 2025, UEFA menjatuhkan kesepakatan penyelesaian kepada Chelsea dengan total denda hingga 80 juta euro, dengan 20 juta euro di antaranya bersifat tidak bersyarat.

Skuad Aston Villa
Sumber :
  • REUTERS/Willy Kurniawan

‎‎Aston Villa juga masuk dalam daftar klub yang mendapatkan hukuman UEFA pada periode yang sama. Villa dikenai total denda 20 juta euro dalam kesepakatan terkait football earnings, dengan 5 juta euro menjadi denda yang harus dibayar tanpa syarat, sementara mereka juga terkena denda 6 juta euro karena melanggar squad cost rule.

‎‎Barcelona turut merasakan ketatnya regulasi finansial UEFA. Raksasa Spanyol itu menyepakati denda total 60 juta euro, dengan 15 juta euro merupakan denda tidak bersyarat dan sisanya bergantung pada kepatuhan terhadap target yang telah ditetapkan.

‎‎Olympique Lyonnais juga tidak luput dari pengawasan. Klub Prancis tersebut menyepakati total denda 50 juta euro, dengan 12,5 juta euro di antaranya bersifat tidak bersyarat, serta diwajibkan memenuhi target keuangan dalam periode penyelesaian selama empat tahun.

Gelandang FC Porto, Victor Froholdt
Sumber :
  • fcporto.pt

‎‎Selain itu, UEFA pada 2025 juga menjatuhkan sanksi kepada HNK Hajduk Split dan FC Porto dalam pemeriksaan financial sustainability. Porto mendapatkan denda total 5 juta euro, sedangkan Hajduk Split dikenai total denda 1,2 juta euro.

‎‎Chelsea dan Aston Villa bahkan kembali masuk daftar klub yang terkena hukuman UEFA pada 2026. Pada penilaian musim 2025/2026, Chelsea dikenai denda terkait squad cost rule, sedangkan Aston Villa mendapat hukuman yang lebih besar setelah kembali melampaui batas pengeluaran skuad yang diperbolehkan.

‎‎Bukan hanya klub Inggris tersebut yang terkena dampak aturan tersebut. Juventus, Newcastle United, OGC Nice, Santa Clara, FC Astana, dan FK Partizan juga termasuk klub yang dinyatakan tidak memenuhi football earnings rule dalam evaluasi UEFA musim 2025/2026.

‎‎AS Roma juga pernah berada dalam pengawasan ketat UEFA terkait kesepakatan finansial mereka. Pada 2026, Roma kembali dikenai denda dua juta euro karena pelanggaran squad cost rule, menunjukkan bahwa klub yang sudah pernah masuk settlement agreement tetap harus menjaga kepatuhan terhadap target finansial. 

Pemain AS Roma, Manu Kone di Liga Italia
Sumber :
  • REUTERS/Ciro De Luca

‎‎Sanksi UEFA pun tidak selalu berhenti pada denda berupa uang. Klub yang gagal memenuhi target dapat menghadapi pembatasan pendaftaran pemain untuk kompetisi Eropa hingga kemungkinan dikeluarkan dari kompetisi UEFA pada periode tertentu.

‎‎Hal tersebut yang kini menjadi tantangan bagi Como. Klub berjuluk I Lariani itu harus membuktikan bahwa investasi besar yang dilakukan pemilik dapat diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan dan struktur keuangan yang semakin sehat.

‎‎Keberhasilan Como tampil di Liga Champions sebenarnya dapat membantu mengatasi persoalan tersebut. Pendapatan dari kompetisi Eropa, pertumbuhan komersial, peningkatan pemasukan pertandingan, serta aktivitas transfer pemain bisa menjadi sumber pemasukan baru untuk menyeimbangkan pengeluaran klub.

‎Como juga sudah menyadari bahwa strategi belanja besar tidak bisa dilakukan tanpa batas. Presiden klub Mirwan Suwarso sebelumnya menegaskan bahwa proyek Como diarahkan menuju kemandirian finansial dalam beberapa tahun ke depan, dengan dukungan investasi pemilik sebagai bagian dari proses membangun ekosistem klub.

Para Pemain Como FC di Liga Italia
Sumber :
  • REUTERS/Daniele Mascolo

‎‎Dengan demikian, Como kini berada di persimpangan penting. Di satu sisi mereka ingin terus membangun kekuatan agar mampu bersaing di Liga Champions, tetapi di sisi lain harus memastikan pertumbuhan tersebut tetap sesuai dengan aturan finansial UEFA.

‎‎Pengalaman Chelsea, Barcelona, Aston Villa, Lyon, hingga klub-klub lain menjadi pengingat bahwa nama besar dan kekuatan finansial pemilik tidak otomatis membuat sebuah klub terbebas dari aturan. Como kini memiliki waktu untuk membuktikan bahwa proyek ambisius mereka bisa berjalan beriringan dengan prinsip keberlanjutan finansial.

‎‎Jika gagal memenuhi ketentuan, Como berpotensi menghadapi settlement agreement dan pembatasan terkait skuad di kompetisi Eropa. Namun jika mampu meningkatkan pendapatan dan menjaga pengeluaran tetap terkendali, ambisi besar klub untuk menjadi kekuatan baru Italia bisa terus berlanjut tanpa harus tersandung hukuman UEFA. ‎(igp/fan) 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:34
01:25
01:32
01:54
05:21
00:53

Viral