- Instagram @persija
Gaji 'Gila' Super League Bikin Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Rama-ramai Pulang Kampung, Bung Harpa Bongkar Faktanya!
tvOnenews.com - Jagat sepak bola Tanah Air tengah diguncang fenomena unik. Satu per satu pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang dulunya berkarier di luar negeri, kini justru berbondong-bondong "mudik" untuk merumput di Super League.
Tren tersebut tentu saja menimbulkan tanda tanya besar, apakah ini kemajuan finansial atau justru kemunduran kualitas bagi Skuad Garuda?
Kekhawatiran publik cukup beralasan. Banyak pemain yang secara usia masih sangat muda dan diharapkan menyerap ilmu di liga-liga elite dunia, justru memilih pulang lebih awal.
Pengamat sepak bola, Bung Harpa, menyebut fenomena ini sebagai dilema yang tidak hitam-putih.
"Agak susah juga untuk kita nge-judge mereka juga, tidak hitam-putih juga," kata Bung Harpa.
Lantas, apakah benar gaji "gila-gilaan" di Super League yang membuat para pemain naturalisasi Timnas Indonesia pulang kampung ke Tanah Air?
Faktor gaji: Antara karier dan realita hidup
- Instagram @maurozijlstra
Mengapa Super League begitu magnetis? Jawabannya jelasa saja soal uang. Bung Harpa membeberkan fakta mengejutkan soal perbandingan gaji.
Sebagai contoh, saat Asnawi Mangkualam pertama kali menjajal Liga Korea Selatan, upah yang diterimanya hanya sepertiga dari apa yang bisa ia dapatkan di liga domestik saat itu.
"Dia kasih sampel itu di Korea Selatan, kalau lu baru main itu gajinya bisa sepertiga di Liga 1 saat itu," ungkap Bung Harpa, seperti dilansir dari kanal YouTube Ruang Publik.
Bagi para pemain, tentu saja soal cuan bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan solusi atas keresahan pribadi.
"Kadang-kadang susah juga untuk beberapa orang mungkin dia punya keresahan, keresahan yang dari dulu mereka pikul misalnya mohon maaf dia belum punya rumah, mau naikin haji orang tuanya," ujar Bung Harpa.
"Nah, tiba-tiba dia dapat tawaran gaji yang gede yang impian itu, keresahan itu bisa diselesaikan, ya susah juga menolak tawaran itu."
"Sementara kita juga maksa-maksa lu main di luar dong," ungkap Bung Harpa.
Kenyamanan di Balik Perjuangan Keras
- dewaunited.com
Selain faktor finansial, aspek psikologis juga memegang peran penting. Berkarier di luar negeri bukan perkara mudah; pemain harus berhadapan dengan budaya asing, cuaca ekstrem, hingga rasa kesepian, semuanya dengan gaji yang tidak seberapa.
Bung Harpa memberikan contoh lain, yakni pada kasus Marselino Ferdinan. Apabila pemain Timnas Indonesia tersebut bermain di Indonesia, bukan tidak mungkin jika mereka bisa lebih dekat dengan orangtua dan keluarga.
"Orangnya asing segala macem, gajinya kecil, coba balikin ke diri kita, emang susah juga," ujar Bung Harpa.
"Ini udah di Tanah Air, bisa makan sop kaki kambing setiap seminggu sekali, gaji gede, deket sama orangtua," lanjutnya.
Tantangan Menjaga Kualitas
- Dewa United
Meski hak asasi pemain untuk memilih pelabuhan karier harus dihormati, ada satu catatan besar yang tidak boleh diabaikan.
Tantangan utama bagi para pemain diaspora ini adalah bagaimana menjaga standar permainan mereka, agar tidak merosot setelah bermain di Super League.
Kekhawatiran terbesarnya adalah jika mereka pindah hanya untuk menjadi penghias bangku cadangan atau terbuai zona nyaman, yang pada akhirnya akan merugikan performa Timnas Indonesia di level internasional. (ism)