Pakar Timteng UIN: Kemampuan Militer Houthi Harus Diwaspadai Arab Saudi
Jakarta, tvOnenews.com - Eskalasi konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi kembali meningkat setelah Houthi melancarkan serangkaian serangan ke wilayah Arab Saudi, termasuk rudal balistik yang diarahkan ke Riyadh pada Sabtu (19/9/2026).
Rudal tersebut berhasil dicegat sistem pertahanan udara Saudi sebelum mencapai ibu kota. Houthi juga mengklaim menyerang sejumlah lokasi strategis di Riyadh menggunakan rudal dan drone. Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya pertempuran antara Houthi dan pasukan yang didukung Arab Saudi di Yaman.
Pakar Timur Tengah UIN Jakarta Khalid Alwalid menilai eskalasi tersebut tidak terlepas dari sejarah intervensi Arab Saudi dalam konflik Yaman. Menurutnya, Houthi berupaya mempertahankan posisi politik dan militernya sekaligus memberikan tekanan kepada Riyadh agar tidak melakukan tindakan yang dianggap mengancam kekuasaan mereka di Yaman.
Sementara itu, Pakar Timur Tengah Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan Houthi saat ini memiliki kemampuan militer yang jauh lebih besar dibandingkan ketika kelompok tersebut pertama kali berkembang. Kemampuan rudal dan drone memungkinkan Houthi menjangkau wilayah Saudi serta mengancam infrastruktur strategis.
Salah satu kepentingan utama dalam eskalasi terbaru adalah kawasan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Wilayah tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan dan pengiriman energi global. Houthi sebelumnya telah berupaya memperluas pengaruhnya menuju kawasan pesisir Laut Merah.
Bagi Saudi, ancaman terhadap jalur tersebut menjadi semakin penting karena konflik regional telah mengganggu jalur energi lainnya. Perubahan rute ekspor minyak dapat meningkatkan biaya transportasi dan memberikan tekanan terhadap pasar energi global.
Di sisi lain, penguasaan atau pengaruh lebih besar terhadap wilayah strategis tersebut dapat menjadi alat tawar bagi Houthi dalam negosiasi politik mengenai masa depan Yaman.
Yon menilai konflik tersebut pada akhirnya dapat mendorong kembali proses negosiasi. Houthi secara de facto menguasai wilayah yang luas di Yaman, sementara pemerintahan yang diakui secara internasional masih mendapatkan dukungan Saudi dan negara lainnya.
Eskalasi saat ini juga telah menarik perhatian negara-negara lain. Inggris menyatakan akan memberikan dukungan militer terbatas kepada Arab Saudi, sementara sejumlah negara menyerukan penghentian eskalasi.
Dengan meningkatnya serangan terhadap wilayah Saudi dan infrastruktur energi, konflik Yaman tidak hanya menjadi persoalan domestik. Gangguan terhadap Bab el-Mandeb juga berpotensi berdampak pada perdagangan dan pasokan energi yang melewati Laut Merah.