- Istimewa
Pakar Hukum Ungkap Tantangan Supremasi Hukum Era Perkembangan Teknologi Digital
Bogor, tvOnenews.com - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Bogor menggelar kegiatan Intermediate Training atau Latihan Kader II (LK II) tahun 2026 dengan menghadirkan narasumber Pakar Hukum Tata Negara Universitas Muslim Indonesia, Fahri Bachmid.
Fahri turut membawakan materi pembahasan tantangan supresmasi hukum, demokrasi, dan ketatanegaraan di tengah perkembangan teknologi digital dengan tajuk 'Supremasi Hukum di Era Algoritma: Menjaga Keadilan di Balik Layar'.
Ia menyoroti pengaruh algoritma dan perkembangan teknologi yang tidak hanya mengubah pola komunikasi masyarakat tetapi juga memengaruhi pembentukan opini publik, perilaku sosial, hingga proses demokrasi.
Sorotan itu terutam ditujukan terkait tantangan penegakan hukum, terutama terkait penyebaran disinformasi, manipulasi opini publik, perlindungan data pribadi, serta dominasi ruang digital oleh kepentingan tertentu.
“Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi hukum tidak boleh kehilangan orientasi keadilan dan kemanusiaannya. Supremasi hukum harus tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga demokrasi dan hak hak masyarakat,” kata Fahri, Sabtu (9/5/2026).
Tak hanya iut, Fahri juga menyorot arah kepemimpinan dan tata kelola negara bagi Indonesia ke depannya.
Menurutnya Indonesia perlu mulai membangun imajinasi besar mengenai model kepemimpinan nasional berbasis pada ilmu pengetahuan dan kompetensi laiknya sejumlah negara lain yang telah melakukannya.
“Pemerintahan Indonesia hari ini masih banyak dipimpin oleh para politisi. Kemudian ada tingkatan berikutnya yaitu teknokrat, yang dipimpin oleh orang orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan teknis dalam menjalankan negara,” ujar Fahmi.
“Namun kita melihat bagaimana Iran dipimpin oleh para sainstokrat, dimana negara dijalankan oleh para ilmuwan. Kita harus mulai mengimajinasi bahwa ke depan negara ini bisa dipimpin oleh orang orang yang memiliki basis ilmu pengetahuan, riset, dan kapasitas intelektual yang kuat,” sambungnya.
Di sisi lain, Fahri menyebut jika generasi muda memiliki peran penting dalam mempersiapkan arah masa depan bangsa.
Ia menilai bahwa kader mahasiswa tidak boleh hanya berhenti pada aktivitas politik praktis, tetapi juga harus memperkuat tradisi intelektual, budaya riset, dan penguasaan ilmu pengetahuan.
“Mahasiswa harus menjadi kelompok intelektual yang mampu membaca zaman dan menghadirkan gagasan untuk masa depan bangsa. Negara ini membutuhkan pemimpin yang bukan hanya populer secara politik, tetapi juga memiliki kapasitas keilmuan dan integritas,” katanya.