- Gambar ilustrasi AI
Budaya Kerja Sehat Berdampak Besar pada Produktivitas Perusahaan di Era Digital? Ini Alasannya
Menariknya, perusahaan tetap mampu menjaga stabilitas organisasi di tengah fase integrasi yang biasanya identik dengan gelombang pengunduran diri dan ketidakpastian internal. Kondisi ini dinilai berkaitan erat dengan strategi pengelolaan sumber daya manusia yang lebih terbuka dan terintegrasi.
Tantangan Presenteeism di Dunia Kerja Modern
Salah satu persoalan yang kini banyak menjadi perhatian perusahaan adalah fenomena presenteeism. Kondisi ini menggambarkan situasi ketika karyawan hadir bekerja, tetapi tidak benar-benar fokus, terlibat, atau produktif.
Angka presenteeism di Indonesia bahkan disebut mencapai sekitar 41,2 persen, jauh lebih tinggi dibanding tingkat absenteeism atau ketidakhadiran kerja yang berada di kisaran 7,69 persen.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan perusahaan modern bukan lagi sekadar memastikan karyawan datang ke kantor, melainkan bagaimana menjaga energi, motivasi, dan keterlibatan mereka dalam pekerjaan sehari-hari.
Karena itu, banyak perusahaan mulai mengubah pendekatan program kesejahteraan karyawan agar tidak hanya dipandang sebagai fasilitas tambahan, tetapi menjadi bagian dari strategi peningkatan performa kerja.
Di lingkungan Asia Tenggara, pendekatan ini juga harus disesuaikan dengan konteks budaya. Masih banyak pekerja yang menganggap isu kesehatan mental sebagai hal sensitif.
Karena itu, sejumlah perusahaan mulai mengemas program wellness sebagai bagian dari manajemen energi, peningkatan performa, hingga pengembangan produktivitas agar lebih mudah diterima karyawan.
Salah satu contohnya, Indosat yang mulai membangun sistem kesejahteraan lebih terintegrasi melalui forum town hall terbuka, platform wellness khusus, hingga perwakilan karyawan di setiap direktorat yang bertugas menyampaikan masukan langsung kepada manajemen.
Strategi ini dirancang agar komunikasi internal berjalan dua arah dan karyawan merasa memiliki ruang aman untuk menyampaikan pendapat. Pakar budaya kerja global kini menilai psychological safety atau rasa aman secara psikologis menjadi salah satu fondasi utama perusahaan modern.
Karyawan yang merasa aman untuk berbicara, memberi kritik, atau menggunakan fasilitas dukungan perusahaan tanpa takut stigma, cenderung memiliki tingkat engagement lebih tinggi. Managing Director Great Place To Work® ASEAN dan ANZ, Evelyn Kwek, menilai program kesejahteraan mahal sekalipun tidak akan efektif apabila budaya perusahaan belum terbuka.