- instagram Dedimulyadi71
Dedi Mulyadi Sampai Gunakan Teknik 'Sun Tzu' Sebelum Tertibkan PKL Cicadas: Berikanlah Tawaran yang Tidak Bisa Ditolak!
tvOnenews.com - Kemacetan, trotoar semrawut, hingga lapak yang menutupi toko-toko lama menjadi persoalan menahun di kawasan Cicadas, Kota Bandung. Selama puluhan tahun, kawasan ini dikenal padat oleh pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di atas trotoar dan bahu jalan.
Kondisi tersebut membuat akses pejalan kaki terganggu, sementara wajah kawasan perdagangan legendaris itu perlahan kehilangan daya tariknya.
Sebelum melakukan penertiban PKL Cicadas, KDM, Gubernur Jawa Barat itu memilih pendekatan berbeda saat menghadapi penolakan para pedagang.
Alih-alih hanya mengandalkan penertiban, ia justru menawarkan solusi yang tak biasa: mengajak pedagang menjadi petugas kebersihan dengan penghasilan harian yang dinilai lebih pasti.
Strategi komunikasi Dedi Mulyadi pun ramai diperbincangkan publik setelah ia mengunggah pesan bernada filosofi di media sosialnya.
“Teknik NEGOSIASI; Berikanlah tawaran yang tidak bisa ditolak. Sun Tzu berkata ‘Menangkanlah peperangan tanpa harus melalui pertempuran’,” tulisnya melalui Instagram pribadi.
- instagram Dedimulyadi71
Pendekatan persuasif tersebut dianggap menjadi cara unik dalam meredam konflik sosial yang selama ini kerap muncul saat penertiban PKL dilakukan pemerintah daerah.
Strategi Negosiasi ala Dedi Mulyadi untuk PKL Cicadas
Penataan kawasan Cicadas dilakukan setelah pemerintah menilai trotoar di wilayah tersebut sudah terlalu lama berubah fungsi menjadi area berdagang. Penertiban dilakukan oleh Satpol PP Jawa Barat bersama aparat gabungan pada Senin, 18 Mei 2026.
Dalam prosesnya, Dedi Mulyadi turun langsung berdialog dengan para pedagang. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Hartoyo atau Abah Hartoyo, pedagang kopi, rokok, gorengan, dan minuman ringan yang telah berjualan selama 23 tahun di Pasar Cicadas.
Saat berbincang dengan pedagang tersebut, Dedi menawarkan pekerjaan baru sebagai petugas kebersihan kawasan.
Menurutnya, pekerjaan itu bisa menjadi solusi sementara agar para pedagang tetap memiliki penghasilan setelah lapaknya dibongkar.
“Kan ini mau dibongkar, Bapak jadi petugas kebersihan di pasar. Para pedagang di sini berubah, yang awalnya jualan rokok dapat Rp40 ribu, jadi tukang sapu dapat Rp130 ribu. Kota jadi bersih, rakyat dapat kerja,” ujar Dedi Mulyadi.