- Jabar Prov - Gemini Generated
Mengenal Konsep Masjid Tajug yang Digagas Dedi Mulyadi: Perpaduan Budaya Sunda dan Islam
Oleh karena itu, fungsi masjid tidak boleh direduksi sekadar menjadi simbol kemegahan atau komoditas kunjungan wisata religi semata, melainkan harus dikembalikan sebagai ruang yang membangun spiritualitas, memperkuat kohesi sosial, serta melahirkan perubahan perilaku nyata di tengah masyarakat.
Indikator keberhasilan syiar Islam, menurut KDM, tidak bisa diukur dari seberapa besarnya bangunan fisik atau ramainya pengunjung yang datang, melainkan dari perubahan sikap konkret setelah seseorang keluar dari rumah ibadah tersebut dalam kehidupan sehari-hari, contoh terkecilnya adalah dengan menjaga kebersihan.
"Kalau datang ke Al-Jabbar tidak meninggalkan sampah, tidak membuat kesemrawutan, pulang dengan hati penuh kebahagiaan dan cinta kasih, itulah orang yang benar-benar masuk masjid," tegasnya seperti dikutip dari Kompas.com.
Memanfaatkan momentum Tahun Baru Hijriah, KDM mengajak seluruh umat untuk menjadikannya sebagai sarana introspeksi diri.
Ia menandaskan bahwa syiar Islam sejati harus berjalan selaras dengan perubahan perilaku umat yang tidak temperamental, tidak emosional, tidak menebar kebencian, dan mampu menahan diri.
Makna, Filosofi, dan Konsep Utama Gerakan Tajug ala Dedi Mulyadi
Sebagai informasi, rekam jejak KDM dalam mengonsep rumah ibadah lokal ini sebelumnya sudah diwujudkan melalui pembangunan Masjid Tajug Gede Cilodong di Purwakarta.
Istilah tajug sendiri diserap dari bahasa Sunda yang memiliki arti masjid atau musala berukuran kecil yang digunakan sebagai tempat beribadah dan mengaji.
Berikut adalah tiga pilar makna dan konsep utama dari pembangunan gerakan Tajug ala Dedi Mulyadi:
1. Pemberdayaan Tajug Kampung: Selaku orang nomor satu di Jawa Barat, KDM memprioritaskan agenda revitalisasi dan pembangunan tajug di pelosok-pelosok desa ketimbang mendirikan masjid raya yang megah.
Tujuannya agar rumah ibadah berada dekat dengan radius aktivitas harian masyarakat dan terintegrasi langsung dengan kehidupan mereka.
2. Transformasi Kawasan Jabar: Secara filosofis, tajug diarsiteki sebagai episentrum spiritualitas yang mampu menggerakkan perubahan sosial yang positif.
Contoh konkretnya terlihat pada pembangunan Tajug Gede Cilodong di Purwakarta yang sengaja didirikan di atas lahan eks-lokasi prostitusi, guna menyulap tempat kelam tersebut menjadi pusat wisata religi, edukasi, sekaligus penggerak ekonomi warga.