- Opi Riharjo/tvOne
Memutus Kutukan Kemarau, Listrik Pertamina Menghidupkan Sawah di Desa Jatimunggul Indramayu
Kondisi mulai berubah setelah Pertamina EP Zona 7 memberikan bantuan instalasi gardu listrik untuk mendukung operasional pompa irigasi.
Wanto, salah seorang petani setempat, mengaku lebih tenang karena kebutuhan air kini dapat diupayakan dengan dukungan listrik dan biaya yang lebih terjangkau.
"Saat ini saya merasa tenang karena air bisa diusahakan dengan ketersediaan listrik. Biaya pun tidak terlalu besar, bisa menekan pengeluaran," ujar Wanto.
Hal senada disampaikan Waskad, petani Blok Weringin, Desa Jatimunggul. Menurutnya, keterbatasan air selama ini membuat petani hanya mengandalkan musim hujan untuk menanam padi.
Biasanya, petani hanya bisa menanam satu kali pada musim rendeng atau musim penghujan. Sementara itu, pada musim sadon atau musim tanam kedua, mereka kerap mengurungkan niat menanam padi. Bahkan, tanaman palawija pun sering gagal akibat kekurangan air.
"Dengan ketersediaan listrik, kami, khususnya petani, bisa menanam padi tanpa dihantui rasa takut. Biasanya kami di sini hanya menanam satu kali saat musim rendeng. Kalau musim sadon, menanam padi saja sulit, bahkan palawija pun sering gagal karena sulitnya air. Sekarang air setidaknya bisa diusahakan karena ada pompa air dari pemerintah dan listrik dari Pertamina yang bisa menghidupkannya," kata Waskad.
Melalui program tersebut, Pertamina EP Zona 7 memasang satu unit gardu listrik tiga fase dengan kapasitas yang tercantum dalam data program sebesar 33.000 kVA atau 33 MVA.
Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung pengoperasian 25 unit pompa air listrik berdaya 2 HP. Setiap pompa diperkirakan mampu mengairi sekitar lima hektare sawah sehingga total kapasitas layanan pengairan mencapai 125 hektare.
Sejak beroperasi pada Juni 2026, fasilitas tersebut membantu petani menekan biaya pengairan secara signifikan. Jika menggunakan mesin diesel, biaya pengairan mencapai sekitar Rp4,3 juta per musim tanam. Sementara itu, dengan pompa listrik, pengeluaran turun menjadi sekitar Rp1,15 juta.
Artinya, petani berpotensi menghemat sekitar Rp3,15 juta atau lebih dari 73 persen pada setiap musim tanam. Penghematan ini penting karena persoalan petani bukan hanya mendapatkan air, tetapi juga memastikan biaya pengairan tidak menggerus modal dan keuntungan produksi.