news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Petani di Desa Jatimunggul, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat tengah mengairi sawah, Jumat (30/10/2026)..
Sumber :
  • Opi Riharjo/tvOne

Memutus Kutukan Kemarau, Listrik Pertamina Menghidupkan Sawah di Desa Jatimunggul Indramayu

Sebenarnya, bantuan pompa irigasi dari Kementerian Pertanian melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu telah disalurkan sepanjang 2025 hingga 2026.
Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:26 WIB
Reporter:
Editor :

Indramayu, tvOnenews.com - Bagi petani Desa Jatimunggul, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, kemarau bukan sekadar pergantian musim. Ketika hujan berhenti, sumber air mengering, sawah tak lagi terairi, dan harapan untuk memanen padi harus tertunda hingga musim hujan tiba.

Kini, persoalan tersebut mulai menemukan jalan keluar. Kehadiran instalasi gardu listrik dari Pertamina EP Zona 7 memungkinkan pompa irigasi bantuan Kementerian Pertanian yang sebelumnya terkendala pasokan listrik mulai dioperasikan untuk mengairi sawah.

Sejak gardu tersebut difungsikan pada Juni 2026, petani memiliki alternatif pengairan dengan biaya lebih terjangkau. Ketersediaan listrik tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga membuka peluang bagi lahan tadah hujan untuk kembali ditanami pada musim kemarau.

Kepala Desa Jatimunggul, Roup, menjelaskan bahwa wilayahnya memiliki sekitar 427 hektare sawah yang seluruhnya merupakan lahan tadah hujan. Kondisi ini membuat aktivitas pertanian sangat bergantung pada curah hujan dan ketersediaan sumber air.

Selama ini, hanya sekitar 10 persen lahan yang dapat ditanami padi dua kali dalam setahun. Sawah yang berdekatan dengan sungai masih berpeluang mendapatkan pasokan air, sedangkan lahan yang jauh dari sumber air kerap kesulitan ketika kemarau tiba.

"Yang bisa dua kali tanam cuma sepuluh persen," ujar Roup.

Jarak persawahan dengan Sungai Cipanas yang mencapai sekitar dua kilometer menjadi salah satu kendala utama. Tanpa infrastruktur pengairan memadai, sebagian besar sawah sulit mendapatkan air ketika hujan tidak lagi turun.

Akibatnya, sekitar 90 persen lahan pertanian di desa tersebut kesulitan ditanami selama musim kemarau. Kondisi ini turut memengaruhi kehidupan sekitar 500 petani yang terpaksa mencari pekerjaan serabutan ketika sawah tidak dapat diandalkan sebagai sumber penghasilan.

Sebenarnya, bantuan pompa irigasi dari Kementerian Pertanian melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu telah disalurkan sepanjang 2025 hingga 2026. Namun, bantuan tersebut belum sepenuhnya mengatasi persoalan karena terbatasnya akses jaringan listrik di area persawahan.

Pengoperasian pompa menggunakan mesin diesel berbahan bakar solar membutuhkan biaya cukup besar. Petani harus mengeluarkan sekitar Rp4,3 juta untuk pengairan setiap musim tanam. Biaya tersebut menjadi beban tersendiri karena berpotensi mengurangi keuntungan hasil panen.

Kondisi mulai berubah setelah Pertamina EP Zona 7 memberikan bantuan instalasi gardu listrik untuk mendukung operasional pompa irigasi.

Wanto, salah seorang petani setempat, mengaku lebih tenang karena kebutuhan air kini dapat diupayakan dengan dukungan listrik dan biaya yang lebih terjangkau.

"Saat ini saya merasa tenang karena air bisa diusahakan dengan ketersediaan listrik. Biaya pun tidak terlalu besar, bisa menekan pengeluaran," ujar Wanto.

Hal senada disampaikan Waskad, petani Blok Weringin, Desa Jatimunggul. Menurutnya, keterbatasan air selama ini membuat petani hanya mengandalkan musim hujan untuk menanam padi.

Biasanya, petani hanya bisa menanam satu kali pada musim rendeng atau musim penghujan. Sementara itu, pada musim sadon atau musim tanam kedua, mereka kerap mengurungkan niat menanam padi. Bahkan, tanaman palawija pun sering gagal akibat kekurangan air.

"Dengan ketersediaan listrik, kami, khususnya petani, bisa menanam padi tanpa dihantui rasa takut. Biasanya kami di sini hanya menanam satu kali saat musim rendeng. Kalau musim sadon, menanam padi saja sulit, bahkan palawija pun sering gagal karena sulitnya air. Sekarang air setidaknya bisa diusahakan karena ada pompa air dari pemerintah dan listrik dari Pertamina yang bisa menghidupkannya," kata Waskad.

Melalui program tersebut, Pertamina EP Zona 7 memasang satu unit gardu listrik tiga fase dengan kapasitas yang tercantum dalam data program sebesar 33.000 kVA atau 33 MVA.

Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung pengoperasian 25 unit pompa air listrik berdaya 2 HP. Setiap pompa diperkirakan mampu mengairi sekitar lima hektare sawah sehingga total kapasitas layanan pengairan mencapai 125 hektare.

Sejak beroperasi pada Juni 2026, fasilitas tersebut membantu petani menekan biaya pengairan secara signifikan. Jika menggunakan mesin diesel, biaya pengairan mencapai sekitar Rp4,3 juta per musim tanam. Sementara itu, dengan pompa listrik, pengeluaran turun menjadi sekitar Rp1,15 juta.

Artinya, petani berpotensi menghemat sekitar Rp3,15 juta atau lebih dari 73 persen pada setiap musim tanam. Penghematan ini penting karena persoalan petani bukan hanya mendapatkan air, tetapi juga memastikan biaya pengairan tidak menggerus modal dan keuntungan produksi.

Meski demikian, keberlanjutan manfaat fasilitas tersebut tetap membutuhkan pengelolaan pompa, pemeliharaan jaringan listrik, serta pengaturan distribusi air yang baik.

Bagi Roup, ketersediaan listrik membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas pertanian di desanya. Rata-rata sawah di Jatimunggul mampu menghasilkan sekitar tujuh ton gabah kering per hektare. Dengan akses pengairan yang lebih mudah, lahan yang sebelumnya sulit ditanami saat kemarau berpeluang kembali menghasilkan panen.

"Produksi padi bisa meningkat," tutur Roup.

Peluang untuk meningkatkan frekuensi tanam menjadi dua kali setahun kini mulai terbuka. Namun, realisasi peningkatan produksi tetap bergantung pada kecukupan air, kondisi lahan, jadwal tanam, serta keberhasilan petani dalam mengelola budidaya.

Camat Terisi, Boy Billy Prima, turut mengapresiasi dukungan tersebut. Ia mengatakan, keterbatasan pasokan listrik sebelumnya menjadi kendala dalam pengoperasian pompa. Pasokan listrik dari warga juga tidak selalu stabil karena harus memenuhi kebutuhan rumah tangga.

"Suplai listrik kita susah, mengambil pasokan dari warga kurang stabil karena kebutuhan listrik digunakan sendiri. Sekarang, alhamdulillah, ketersediaan listrik sudah ada. Saya mengucapkan terima kasih atas kolaborasi Pertamina yang memberikan listrik. Ini sejalan dengan upaya swasembada pangan Presiden," jelas Boy.

Head of Comrel & CID Pertamina EP Zona 7, Wazirul Luthfi, mengatakan bantuan instalasi gardu listrik tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan bertajuk Kerja Tani Berdikari dan Tahan Pangan (Jari Tangan). (oro/muu)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:21
14:13
09:50
04:54
08:02
14:03

Viral