- mohammad mahrus
Perpustakaan Keluarga untuk Wujudkan SDM Unggul dan Berkarakter
“Saya yakin kalau posisi literasi kita naik, akan mengkatrol posisi Indonesia dan melakukan lompatan ke halaman depan. Sayangnya posisi literasi kita belum maksimal,” jelasnya.
Dia menyebut anggaran Pendidikan Kabupaten Lamongan nilainya setara dengan anggaran Perpusnas sebesar Rp600 miliar. Menurutnya, hal ini menyedihkan. Anggaran Perpusnas harus ditingkatkan menjadi Rp1 triliun agar dapat meningkatkan literasi.
“Karena literasi modal kita untuk memajukan bangsa,” ungkapnya.
Sementara itu, pustakawan ahli utama Perpusnas, Sri Sumekar, mengajak agar keluarga di Lamongan memiliki perpustakaan keluarga. Keluarga adalah fondasi dasar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan keluarga dapat menjadi media literasi, edukasi, komunikasi, dan belajar bersama.
“Selama ini beberapa penelitian menunjukkan perpustakaan keluarga dapat meningkatkan minat baca. Ada skripsi dan disertasi yang menunjukkan adanya korelasi positif bahwa kehadiran perpustakaan keluarga di rumah dapat meningkatkan budaya literasi,” tuturnya.
Keluarga memiliki sumbangsih dalam mencerdaskan kehidupan bangsa karena keluarga adalah perwakilan bangsa yang terkecil. Dari keluarga, tumbuh anak yang berpendidikan dan berkarakter.
“Mari mulai dari rumah kita, kita bentuk perpustakaan keluarga meski kecil, agar bisa diterapkan di sekolah, masyarakat dan anak-anak kita akan mendapatkan manfaat. Semoga perpustakaan keluarga menjadi program yang diwujudkan Kabupaten Lamongan tahun depan dan bisa dilombakan,” ujarnya.
Pegiat literasi keluarga Shahnaz Haque menilai, keteladanan orang tua sangat dibutuhkan dalam membangun kebiasaan anak untuk membaca. Orang tua harus dekat dengan buku agar anak dapat mencontoh.
“Mana mungkin buah hati kita suka membaca kalau bunda dan ayahnya lebih suka pegang gadget daripada pegang buku,” tuturnya.
Selain itu, orang tua harus menyediakan bahan bacaan untuk anak. Dia mengajak orang tua untuk memberikan hadiah berupa buku kepada buah hatinya dan kemudian bersama-sama menelaah isi buku tersebut.
“Jangan tanya, pesan moral apa dari buku tersebut. karena dengan begitu bunda dan ayah menyeragamkan mereka lagi. Biarkan mereka dengan kreativitasnya memberikan atau menangkap pesan moral dari setiap buku yang ada,” lanjutnya.
Kemudian anak ditanyai halaman dari buku tersebut yang paling dekat dengan hatinya, dan bagaimana cara mengimplementasikan atau melakukan di setiap hari, terhadap praktik baik dari pesan moral di buku tersebut.