- tim tvone - sandi irwanto
Artis Ashanty Resmi Raih Gelar Doktor, Angkat Disertasi Pergeseran Industri Musik dan Dunia Digital
Surabaya, tvOnenews.com - Artis penyanyi sekaligus selebriti Ashanty resmi meraih gelar Doktor pada Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Disertasi istri musisi Anang Hermansyah disertasi berjudul "Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X Terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia".
Disertasi ini mengkaji bagaimana penyanyi baby boomer dan generasi x di Indonesia merespons transformasi digital dalam industri musik, yang telah menggeser praktik produksi, distribusi, promosi dan konsumsi dari sistem analog ke ekosistem berbasis platform dan data.
Perubahan ini menempatkan penyanyi senior pada posisi yang menantang, karena mereka harus memahami logika algoritma, mengelola kanal digital serta tetap menjaga identitas artistik sebagai sumber legitimasi.
Ashanty meneliti agar karya-karya musisi 'lawas' tak tergeser dengan hadirnya banyak musisi pendatang baru, sehingga kontribusi utama disertasi ini adalah model konseptual yang menekankan keseimbangan antara disiplin digital dan integritas artistik.
Proses pengerjaan disertasi bukannya tanpa hambatan. Ashanty berkisah proposalnya pernah ditolak promotor sebanyak empat kali, namun akhirnya diterima untuk yang kelima kali.
"Total ditolak (proposal) 4 kali. Jadi pernah pada titik menyerah dan tidak ingin lanjut studi, namun saya bersyukur promotor selalu memberikan semangat, suami saya juga selalu memberikan semangat," ungkapnya seusai menuntaskan sidang terbuka promosi doktor di kampus B Unair.
Sementara itu, Promotor disertasi Ashanty, Suko Widodo menegaskan, pihaknya tak memberikan perlakuan istimewa kepada Ashanty selama menjalani studi S3 di Unair. Menurutnya, semua mahasiswa harus diperlakukan sama di hadapan ilmu pengetahuan.
"Bagi saya, tidak akan kompromi mau dia artis mau anak presiden sekalipun apapun kalau dalam ilmu pengetahuan sama saja. Dan ternyata dia bisa membuktikan bahwa dia memiliki kedisiplinan dan konsistensi sehingga disertasinya selesai," tukas Suko.
Dosen Ilmu Komunikasi Unair itu juga memuji pemilihan tema yang saat itu menarik perhatian promotor dan co-promotor, dimana pemilihan tema dianggap sesuatu yang langka.
"Bayangkan siapa yang akan memikirkan para penyanyi lawas sebut saja Rafika Duri atau Rhoma Irama yang harus bersaing dengan anak muda di dunia digital, saya bayangkan bagaimana susahnya mentranskrip lalu rekamannya juga harus ada," tambahnya.