- sandi irwanto
Kontroversi Buku Islam Ala Prabowo, Begini Penjelasan Penulis KH Asep Syaifuddin
Surabaya, tvOnenews.com - Buku Islam Ala Prabowo yang beredar luas di media sosial, terus menjadi perbincangan publik. Kiai Asep Saifuddin Chalim, salah satu penulis di buku tersebut, mengaku kaget dengan judul buku yang kini menjadi kontroversi. Kiai Asep mengaku sudah mengusulkan kepada tim pembuat buku agar judulnya diubah karena dinilai sensitif.
“Saat panitia buku tersebut minta tulisan kepada saya, saya telah mengingatkan agar judulnya diubah karena sangat sensitif,” ujar pria yang dikenal sebagai kiai milarder ini.
Meski behitu, Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Prof. KH Asep Saifuddin Chalim, menilai, tulisannya tersebut tidak untuk memuji atau mengkultuskan Presiden Prabowo Subianto. Justru ia ingin menyampaikan pesan mengenai kepemimpinan melalui kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Ketika diminta menulis untuk buku tersebut, kata kiai kharismatik ini, dirinya menginginkan Prabowo bisa mengambil pelajaran dari kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, terutama dalam hal pemberantasan KKN (korupsi, kolusi dan nepotsme) .
"Jadi, semangat saya, semangat untuk berdakwah. Kita semua tahu bahwa kebijakan presiden sangat menentukan nasib bangsa Indonesia,” tegas Kyai Asep, pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet.
Dia memaparkan, kepemimpinan khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu contoh yang layak dijadikan inspirasi. Kiai Asep berharap, Presiden Prabowo dapat meneladani ketegasan Umar dalam membangun pemerintahan yang bersih, jujur dan adil.
"Cerita khalifah Umar bin Abdul Aziz sering saya sampaikann saat. berceramah di hadapan pejabat, baik kepala daerah maupun menteri. Saya harap dapat menginspirasi, khusuusnya dalam ketegasannya memberantas korupsi dan nepotisme,” tegas Kyai Asep.
Dirinya menginginkan Prabowo membaca tulisannya itu. Kiai Asep menilai, kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz menunjukkan pemerintahan dapat membawa kesejahteraan dan kemakmur serta keadilan, jika dikelola secara baik, tegas dan serius.
Tak hanya menyoroti persoalan korupsi, kolusi dan nepotisme, Kiai Asep juga berpendapat tentang sumber pendapatan negara. Ia menilai pemerintah seharusnya tidak terlalu mengandalkan pajak sebagai sumber penerimaan. Melainkan mengoptimalkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta mendorong hilirisasi untuk memperkuat perekonomian nasional.
Kiai yang juga bergelar ptofesor ini kembali menyampaikan, bahwa tulisannya tidak pernah bermaksud menyamakan Prabowo dengan Umar bin Abdul Aziz. Dirinya menulis kisah tersebut sebagai bahan refleksi dan inspirasi bagi kepemimpinan Indonesia.
Selain itu, Kiai Asep juga mengaku sudah membaca buku Paradox karya Prabowo yang, dinilainya, memipunyai semangat pemberantasan korupsi. Karena itu, dia berharap pemerintahan Prabowo berani menjalankan agenda pemberantasan korupsi.
Bahkan Kiai Asep menungungkapkam bagian tulisannya di halaman 336 buku Islam Ala Prabowo.
"Dalam bagian tersebut, saya menekankan pentingnya pemerintahan yang tegas, antikorupsi, efisien, efektif, serta berakhlak dan sesuai dengan nilai-nilai agama," pungkasnya. (msi/far)