- Rohmadi
Warga Keluhkan Sungai di Jombang Bau Menyengat, Dipenuhi Endapan dan Sampah
Jombang, tvOnenews.com – Bau menyengat tercium dari aliran Sungai Sekunder Rejoagung 2 di Dusun Murong Santren, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Saat musim kemarau, sungai tersebut nyaris tanpa aliran air dan dipenuhi endapan serta sampah.
Pantauan pada Selasa (15/9) siang, dasar sungai terlihat dipenuhi endapan berwarna kecokelatan. Di sejumlah titik juga tampak sampah berserakan. Beberapa saluran pembuangan dari permukiman terlihat mengarah langsung ke badan sungai.
Salah satu saluran bahkan terlihat mengeluarkan cairan berwarna putih. Warga menduga cairan tersebut berkaitan dengan limbah produksi tahu. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pemeriksaan dan verifikasi dari instansi berwenang.
Kondisi itu dikeluhkan Umar Mahmud, warga Dusun Murong Santren yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1999. Ia mengatakan persoalan pencemaran sungai bukan baru terjadi, tetapi kondisinya dirasakan semakin parah dalam beberapa tahun terakhir, terutama ketika musim kemarau.
“Yang jadi keluhan itu limbah tahu, kotoran hewan, dan sampah-sampah. Kalau kemarau, parah. Baunya sangat menyengat sampai bikin dada sesak dan panas,” kata Umar, Selasa (15/9).
Menurut Umar, material yang masuk ke sungai berasal dari berbagai sumber. Selain dugaan limbah tahu, warga juga kerap menemukan kotoran hewan dan sampah rumah tangga dibuang ke aliran sungai.
Minimnya debit air saat kemarau membuat endapan dan material buangan tidak segera terbawa arus. Kondisi tersebut, menurut Umar, membuat bau semakin kuat dan mengganggu warga yang tinggal di sekitar sungai.
“Kalau musim hujan airnya penuh dan kotoran terbawa. Tapi kalau kemarau, parah. Setiap hari baunya terasa,” ujarnya.
Umar mengaku persoalan tersebut telah beberapa kali disampaikan kepada pemerintah. Namun, ia menilai penanganan yang dirasakan warga belum memberikan solusi permanen.
“Bukan satu atau dua kali disampaikan, sudah sering. Hasilnya tidak ada solusi. Kalau ada rapat, dibicarakan, setelah itu kembali lagi seperti semula,” ungkapnya.
Salah satu solusi yang pernah disampaikan, lanjut Umar, adalah pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Namun, fasilitas tersebut hingga kini belum sepenuhnya terealisasi.
“Katanya mau dibuatkan IPAL, tapi sampai sekarang belum ada. Harapannya memang dibuatkan IPAL supaya sungainya bersih dan warga tidak terus terkena dampak bau,” katanya.