- Gambar ilustrasi AI
Coding dan AI Masuk Sekolah, Tapi Tantangan Pendidikan Bukan Sekadar Soal Teknologi
Pernyataan itu disampaikan dalam Acer Edu Tech 2026 di Surabaya yang mengangkat tema “Coding dan AI Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Kebutuhan”. Forum tersebut mempertemukan ratusan peserta dari lingkungan pendidikan di Jawa Timur untuk membahas penerapan coding dan AI, termasuk kesiapan sekolah dan pendidik.
Negara Maju Sudah Mengukur Kemampuan Berpikir Kreatif
Perubahan pendidikan berbasis teknologi juga tidak berlangsung dalam ruang hampa. Sejumlah sistem pendidikan negara maju mulai memberi perhatian lebih besar pada kemampuan yang tidak hanya berkaitan dengan hafalan dan capaian akademik.
Dalam PISA 2022, OECD mengukur creative thinking pada siswa berusia 15 tahun di 64 negara dan ekonomi. Singapura mencatat skor tertinggi, sementara Korea, Kanada, Australia, Selandia Baru, Estonia, dan Finlandia termasuk sistem pendidikan yang berada di atas rata-rata OECD.
OECD mendefinisikan creative thinking sebagai kemampuan untuk terlibat secara produktif dalam menghasilkan, mengevaluasi, dan memperbaiki gagasan. Kemampuan ini relevan ketika siswa menghadapi persoalan yang tidak memiliki satu jawaban sederhana.
Menariknya, capaian akademik tinggi tidak selalu identik dengan kemampuan berpikir kreatif. OECD menemukan sekitar separuh siswa yang termasuk unggul dalam creative thinking di negara-negara OECD tidak berada dalam kelompok siswa dengan capaian akademik tertinggi.
Konteks tersebut membuat pembelajaran coding dan AI memiliki fungsi yang lebih luas. Jika dirancang dengan pendekatan yang tepat, keduanya dapat digunakan bukan sekadar untuk mengajarkan teknologi, tetapi sebagai medium untuk melatih logika, eksplorasi, kreativitas, dan penyelesaian masalah.
Guru dan Sekolah Jadi Faktor Penentu
Tantangan terbesar justru muncul setelah teknologi tersedia. Sekolah perlu memiliki pendidik yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan tujuan pembelajaran, bukan sekadar mengenalkan aplikasi baru kepada siswa.
Prof. Anita Lie, M.A., Ed.D., Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Widya Mandala Surabaya, menilai transformasi sekolah tidak boleh kehilangan tujuan dasar pendidikan.
“Sekolah masa depan adalah sekolah yang mampu terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan, tanpa kehilangan tujuan utama pendidikan. Teknologi, termasuk coding dan AI, perlu digunakan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta membentuk karakter siswa. Karena itu, transformasi pendidikan harus dimulai dari visi sekolah yang kuat, pendidik yang terus berkembang, dan ekosistem yang mendukung setiap siswa mencapai potensinya,” tuturnya.