- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Dari Nganjuk, Siswa SMK Belajar Digital hingga Karyanya Terjual ke Luar Negeri
Program pengembangan pendidikan digital ini telah berjalan sekitar tiga tahun. Di baliknya terdapat Hanief Iksa, pendiri KongVector, yang sebelumnya tinggal di Surabaya. Keputusannya pindah ke Nganjuk bermula dari keinginan untuk rehat dari kehidupan kota.
Dari sana, ia kemudian terlibat dalam pengembangan SMK Digital PSM dan SMK Digital Alqomar, termasuk mengalokasikan ratusan juta rupiah dari dana pribadi untuk revitalisasi sekolah dan mendukung kebutuhan pendidikan.
Keterlibatan tersebut tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. tapi juga ikut menopang kebutuhan guru serta pengembangan model pembelajaran.
Kini, hasil dari proses itu mulai terlihat dari siswa yang mampu menghasilkan karya, menjangkau pembeli di luar negeri, menjalankan aktivitas bisnis, hingga memperoleh penghasilan.
Capaian tersebut menjadi bagian dari tujuan yang lebih besar: memberikan kesempatan kepada anak-anak di daerah untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
"Harapan saya, anak-anak ini nantinya punya kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri. Mereka boleh berasal dari Nganjuk atau daerah mana pun, tetapi kesempatan mereka seharusnya tidak berhenti karena tempat mereka lahir," kata Hanief.
Dari Nganjuk, cerita tersebut akhirnya bukan sekadar tentang sekolah yang memiliki perangkat digital lebih lengkap. Ini tentang bagaimana akses, keterampilan, dan kesempatan dapat membawa karya siswa dari ruang kelas di daerah menuju pasar yang lebih luas. (udn)