- ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Awal Mula Pria di Bangkalan Ngaku Imam Mahdi, Modus Top Up Umur-Masuk Surga Buat Korban Tertipu Rp1,3 Miliar
Jakarta, tvOnenews.com - Kasus dugaan penipuan dan pemerasan berkedok agama terjadi di Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Seorang pria berinisial FF dilaporkan atas dugaan penipuan yang menyebabkan korban mengalami kerugian hingga Rp1,3 miliar.
Dalam menjalankan aksinya, pelaku diduga mengaku sebagai Imam Mahdi dan menjanjikan hal-hal berkaitan dengan keselamatan, perpanjangan umur, hingga kehidupan di surga.
Kuasa hukum korban, Jailani M, menjelaskan bahwa perkara tersebut berawal dari kegiatan forum pengajian dipimpin oleh seseorang bernama Gus Yayak pada 2015.
"Sebenarnya klien saya kenal saudaranya terlapor atas nama Y. Y ini adalah guru spiritual dari tahun 2015 sampai 2019," ujar Jailani M saat dihubungi tvOne, Sabtu (24/10/2026).
- tvOneNews
Ia menerangkan, para santri Gus Yayak sangat tunduk dan patuh. Pada tahap awal, aktivitas kelompok itu masih berfokus pada pengajaran nilai-nilai kepatuhan terhadap orang tua dan guru.
Namun, pola pengajaran tersebut perlahan membentuk sikap fanatik para pengikutnya. Hal itu terjadi setelah Gus Yayak meninggal dunia, sehingga mereka kehilangan guru spiritual atau panutannya.
Situasi ini membuat FF disebut sebagai adik Gus Yayak kemudian mengambil kesempatan untuk mengarahkan para santri menemui ayahnya, AZ.
"Di 2019, gurunya si Y ini meninggal dunia. Karena tidak ada yang bisa mengendalikan lagi, adiknya yang tidak pernah ikut dalam ajaran tersebut meminta atau menyuruh para santri ini untuk datang ke orang tuanya," jelasnya.
Pria Ngaku sebagai Imam Mahdi Gadungan
Dalam pertemuan itu, para pengikut disebut mulai menerima doktrin yang menyimpang. AZ diduga mengangkat dirinya sendiri sebagai Ratu Adil Alaihis Salam dengan klaim memiliki kekuasaan atas alam semesta dan dapat berkomunikasi langsung dengan Allah. Sementara itu, FF disebut dinobatkan sebagai Imam Mahdi.
"Selain itu juga disampaikan bahwa, si Ratu Adil Alaihis Salam ini sebagai orang yang setengah malaikat alias AS ini sebagai orang yang setengah malaikat, setengah manusia yang bisa melihat amal-amal manusia dan bisa berkomunikasi dengan Tuhan," tambahnya.
Ironisnya, para anggota kelompok langsung mempercayai begitu saja. Jika berbicara ajaran agama, ia sangat menyayangkan terhadap pengakuan tersebut karena telah melampaui derajat Nabi.
Jailani menuturkan, para anggota kelompok tidak leluasa mempertanyakan ajaran yang disampaikan. Bahkan, terdapat sejumlah aturan yang dinilai tidak masuk akal, seperti larangan membawa telepon seluler ketika menghadap pemimpin kelompok serta kewajiban mengenakan pakaian putih.
"Mereka juga harus pakai baju putih. Sebenarnya tidak ada pernyataan yang rasional alasannya ketika ditanya. Alasan klien saya percaya karena ada satu part yang di mana ayahnya sakit datang ke dia itu sembuh," heran dia.
Lancarkan Aksi Penipuan Lewat Modusnya
Lebih lanjut, dugaan penipuan mulai dilakukan oleh FF dengan meminta sejumlah uang dari 2019 hingga 2025. Pelaku disebut mengklaim dapat mengetahui usia seseorang dan memperingatkan korban bahwa mereka berpotensi meninggal dalam waktu dekat.
Untuk menghindari ancaman tersebut, korban diminta membayar biaya yang disebut sebagai top up umur serta kafarat atau denda penebus dosa.
"Setiap si FF ini butuh uang itu mesti ada yang dianggap umurnya pendek. Kayak klien saya, 'kamu ke sini bawa uang Rp3 juta, umurmu itu kurang 3 hari. Anakmu yang ada di dalam kandungan kurang 3 hari'," tuturnya.
Seiring berjalannya waktu, AZ meninggal dunia. Situasi ini membuat para murid maupun santri hingga keluarganya sadar telah menjadi korban penipuan.
Berdasarkan keterangan kuasa hukum, pembayaran yang dibebankan kepada korban dan keluarganya menjadi bagian dari kerugian yang dilaporkan mencapai Rp1,3 miliar.
Kasus ini kini menjadi sorotan karena dugaan penyalahgunaan kepercayaan agama tersebut menimbulkan kerugian finansial dalam jumlah besar. Meski demikian, seluruh tuduhan tersebut tetap perlu dibuktikan melalui proses hukum.
(hap)