- Istimewa
Program Strategis Nasional Harus Dikawal Dengan Kritik yang Konstruktif dan Berbasis Solusi
tvOnenews.com - Wakil Ketua Umum Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI), Dedi Sofhan, mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan mahasiswa, untuk mengawal berbagai program strategis nasional secara objektif, ilmiah, dan konstruktif demi mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Menurut Dedi Sofhan, setelah hampir dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berjalan, berbagai program prioritas yang merupakan implementasi Asta Cita mulai direalisasikan. Salah satu program yang paling mendapat perhatian adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
"Program Makan Bergizi Gratis merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa. Namun tentu dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai tantangan yang harus terus diperbaiki, mulai dari sistem distribusi pangan, pengawasan kualitas gizi, koordinasi antarlembaga, hingga penguatan regulasi," ujar Dedi Sofhan.
Ia menilai Indonesia dapat mengambil pelajaran dari berbagai negara yang telah lebih dahulu melaksanakan program serupa, seperti Brazil dan Finlandia.
Menurutnya, Brazil berhasil membangun sistem pengawasan gizi yang kuat dengan menempatkan ahli gizi sebagai bagian penting dalam penyusunan kebijakan, pengawasan mutu bahan pangan, hingga evaluasi pelaksanaan program. Sementara Finlandia menunjukkan pentingnya membangun kerangka hukum yang matang, tata kelola yang jelas, serta kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, tenaga pendidik, orang tua, dan masyarakat.
"Keberhasilan program sebesar MBG tidak dapat dicapai secara instan. Dibutuhkan evaluasi berkelanjutan, pengawasan yang baik, serta dukungan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya kritik semata tetapi juga rekomendasi yang dapat memperbaiki pelaksanaannya," katanya.
Selain MBG, Dedi Sofhan juga menilai Program Food Estate merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah meningkatnya ancaman krisis pangan dunia akibat konflik geopolitik, perubahan iklim, dan meningkatnya jumlah penduduk.
Menurutnya, ketergantungan terhadap impor pangan masih menjadi tantangan besar sehingga pemerintah perlu terus meningkatkan produksi pangan nasional melalui modernisasi pertanian, penguatan cadangan pangan, serta pemberdayaan petani lokal.
"Ketahanan pangan merupakan bagian dari kedaulatan negara. Oleh karena itu, peningkatan produksi pangan nasional harus menjadi misi bersama seluruh komponen bangsa," ungkapnya.