- Istockphoto
Sejarah Lagu Daerah Sumsel “Cuk Mak Ilang”, Kisah Pantun Cinta Palembang yang Kembali Populer
tvOnenews.com - Tahukah kamu bahwa Sumatera Selatan memiliki banyak lagu daerah yang sarat makna budaya, salah satunya adalah “Cuk Mak Ilang”?
Lagu tradisional ini dikenal luas di kalangan masyarakat Palembang karena liriknya yang ringan, jenaka, dan penuh pantun khas Melayu.
Sejak dahulu, lagu ini sering dinyanyikan dalam berbagai acara kebudayaan maupun pergaulan masyarakat sebagai bentuk ekspresi rasa cinta dan kerinduan anak muda.
Menariknya, lagu “Cuk Mak Ilang” kembali menjadi sorotan ketika karya musik daerah mulai banyak diangkat kembali oleh generasi baru.
Kehadirannya mengingatkan bahwa lagu-lagu tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang merekam cara masyarakat berkomunikasi, bersosialisasi, dan menyampaikan perasaan melalui pantun yang indah.
Di tengah arus modernisasi musik, lagu-lagu daerah seperti “Cuk Mak Ilang” memiliki nilai historis dan kultural yang kuat.
Liriknya menggambarkan kisah cinta dan kerinduan anak muda dalam bentuk pantun yang ringan dan penuh makna.
Karakter ceria dari lagu ini membuatnya mudah diterima lintas generasi, sekaligus menjadi salah satu warisan budaya yang terus hidup di masyarakat Sumatera Selatan.
Asal-usul Lagu “Cuk Mak Ilang” dari Tradisi Pantun Palembang
Melansir dari berbagai sumber, “Cuk Mak Ilang” merupakan lagu daerah yang berakar dari tradisi sastra lisan masyarakat Palembang.
Sejak dahulu, masyarakat Sumatera Selatan dikenal memiliki kebiasaan menyampaikan pesan melalui pantun, terutama dalam pergaulan muda-mudi.
Pantun tersebut sering digunakan untuk mengekspresikan rasa suka, rindu, maupun candaan dalam suasana santai. Dari tradisi inilah lahir berbagai lagu daerah bernuansa ringan dan romantis, termasuk “Cuk Mak Ilang”.
Nuansa riang dalam lagu ini menggambarkan kehidupan sosial masyarakat yang akrab dengan humor, pergaulan, dan ungkapan perasaan secara halus melalui kata-kata puitis.
Tidak heran jika lagu ini sering dinyanyikan dalam berbagai acara kebudayaan maupun kegiatan masyarakat.
Karakter lirik yang sederhana membuat lagu ini mudah diingat dan dinyanyikan kembali oleh generasi berikutnya.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa “Cuk Mak Ilang” tetap dikenal hingga sekarang meski zaman terus berubah.
Upaya Menghidupkan Kembali Musik Tradisional
Di era digital, keberadaan lagu daerah sering menghadapi tantangan karena kalah populer dibandingkan musik modern.
Namun berbagai pihak mulai mencoba menghidupkan kembali karya-karya tradisional dengan aransemen yang lebih segar.
Salah satu cara yang dilakukan adalah menghadirkan kembali lagu-lagu daerah dalam format musik modern tanpa menghilangkan ciri khas aslinya.
Pendekatan ini dinilai dapat menjembatani selera generasi muda dengan warisan budaya lokal.
Upaya mengangkat kembali lagu daerah Sumatera Selatan ini juga menjadi bagian dari langkah memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada publik yang lebih luas.
Salah satu sosok yang terlibat dalam penggarapan lagu tersebut adalah Angelique Verina, yang turut menghadirkan versi baru lagu “Cuk Mak Ilang”. Proses produksi versi terbaru sendiri dilakukan secara independen bersama tim produksi musik yang menggarap aransemen modern.
Pengerjaan lagu tersebut memakan waktu sekitar satu bulan dari tahap awal hingga penyelesaian rekaman. Penggarapan musiknya melibatkan produser Denny Afrimor yang berperan dalam menyusun aransemen sekaligus mengawal proses produksi hingga rampung.
Sentuhan musik pop daerah dipilih agar lagu ini tetap terdengar segar tanpa meninggalkan identitas aslinya.
Lagu Daerah Tetap Relevan di Era Modern
Mengangkat kembali lagu daerah bukan sekadar menghadirkan karya lama dalam format baru, tetapi juga menjadi upaya menjaga keberlanjutan budaya.
Lagu-lagu seperti “Cuk Mak Ilang” menyimpan nilai sejarah yang mencerminkan kehidupan masyarakat pada masanya.
Selain lagu tersebut, ada pula rencana menghadirkan karya lain dari Sumatera Selatan berjudul “Ombai Akas”.
Lagu ini berasal dari wilayah Komering dan menggunakan bahasa Komering asli, sehingga memiliki karakter yang berbeda dari lagu Palembang.
Penggunaan bahasa daerah menjadi tantangan tersendiri dalam proses produksinya. Pengucapan kata-kata harus dipastikan tepat agar makna asli dari lagu tersebut tidak berubah.
Kehadiran lagu-lagu daerah dalam kemasan modern diharapkan dapat memperluas jangkauan pendengar, terutama generasi muda yang selama ini lebih akrab dengan musik populer.
Dengan cara ini, warisan budaya lokal tetap dapat dikenal dan dinikmati di tengah perkembangan industri musik. (udn)