news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh Buma International Group (DOID)..
Sumber :
  • Buma International

Diterjang Banjir hingga Insiden Keselamatan di Tambang Batu Bara, Operasional Buma (DOID) Jeblok: Rugi Naik dan Pendapatan Rontok

Cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir di lokasi tambang hingga insiden keselamatan yang melibatkan pihak ketiga, membuat Buma International mengalami penurunan kinerja operasional.
Sabtu, 28 Juni 2025 - 18:45 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Perusahaan jasa pertambangan batu bara PT Buma International Group Tbk (DOID) melaporkan penurunan kinerja operasional signifikan pada kuartal kedua tahun 2025.

Berdasarkan laporan informasi dan fakta material yang dirilis pada 26 Juni 2025, penurunan ini dipicu oleh tiga faktor utama.

Manajemen Buma menyampaikan bahwa cuaca ekstrem di lokasi tambang, insiden keselamatan yang melibatkan pihak ketiga, hingga penurunan aktivitas operasional (ramp-down) oleh klien telah mengganggu aktivitas operasional Buma.

Kondisi ini menyebabkan penundaan pengangkutan material dan akses terbatas ke area penambangan, yang berdampak langsung pada produktivitas.

Menurut laporan, curah hujan yang tidak biasa pada musim ini telah memperparah situasi, terutama di wilayah operasional utama perusahaan.

"Kuartal ini terdampak secara signifikan oleh curah hujan ekstrem di lokasi-lokasi tambang utama di Indonesia dan Australia, disertai dengan penghentian operasional berkepanjangan yang dipicu oleh insiden keselamatan dari pihak lain, serta penurunan aktivitas operasional (Ramp-Down) di beberapa lokasi," tulis Corporate Communication Buma di keterbukaan informasi, Sabtu (28/6/2025).

"Di Australia, jumlah hari hujan (rain days) melonjak 47% year-on-year (YoY), sementara di salah satu lokasi tambang utama Indonesia, durasi hujan meningkat 59%, menyebabkan banjir di area 2 tambang (pit flooding) dan gangguan akses yang signifikan," sambungnya.

Selain cuaca, insiden keselamatan yang melibatkan pihak ketiga juga turut mempengaruhi kinerja perusahaan.

Meskipun insiden ini tidak disebabkan oleh kelalaian internal Buma, tetapi dampaknya signifikan terhadap kelancaran operasional.

Buma mengatakan bahwa saat ini investigasi sedang dilakukan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan dan mencegah kejadian serupa di masa depan.

"Insiden keselamatan dari pihak lain juga menyebabkan penghentian operasional selama 27 hari di dua lokasi pertambangan utama. Di saat yang sama, penurunan aktivitas operasional oleh klien di Indonesia dan Australia juga berkontribusi terhadap penurunan volume produksi secara keseluruhan," lanjutnya.

Faktor ketiga yang mempengaruhi kinerja adalah permintaan ramp-down dari klien utama Buma.

Penurunan aktivitas operasional tambang batu bara ini disebut sebagai bagian dari strategi klien untuk menyesuaikan produksi dengan kondisi pasar global yang fluktuatif, khususnya dalam harga komoditas tambang.

Akibatnya, volume pekerjaan Buma menurun, yang berdampak pada pendapatan perusahaan.

Gangguan operasional sepanjang kuartal berdampak signifikan terhadap kinerja produksi, dengan volume overburden removal turun 26% YoY menjadi 101 juta BCM, dan membuat produksi batu bara turun 17% menjadi 18 juta ton.

Penurunan volume ini menyebabkan penurunan pendapatan sebesar 17% menjadi US$352 juta. Selain penurunan produksi, biaya Ramp-Up, yang sebagian besar bersifat tetap, di lokasi-lokasi pertumbuhan Grup, juga menekan profitabilitas, dan berkontribusi pada penurunan EBITDA sebesar 82% menjadi US$14 juta.

Akibatnya, Grup mencatatkan rugi bersih sebesar US$70 juta pada kuartal ini, dibandingkan kerugian sebesar US$19 juta pada periode yang sama tahun lalu.

“Kinerja Grup pada kuartal pertama 2025 dipengaruhi oleh tantangan operasional besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berada di luar kendali kami. Kami menghadapi tantangan ini dengan respons yang cepat dan tegas di Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat, melalui penerapan kebijakan alokasi modal yang lebih disiplin, implementasi program efisiensi di seluruh grup, serta percepatan peningkatan produktivitas di area-area kunci," kata Direktur Buma Iwan Fuad Salim dalam laporan yang sama.

"Berkat langkah-langkah tersebut, Grup mencatatkan perbaikan kinerja di kuartal kedua, menempatkan kami kembali ke jalur yang tepat. Kami tetap yakin akan kemampuan kami untuk memulihkan momentum dan menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," sambungnya.

Meski menghadapi tantangan ini, Buma tetap menyampaikan optimismenya. Perusahaan kontraktor tambang batu bara itu kini tengah menjajaki peluang diversifikasi layanan dan ekspansi ke proyek baru untuk mengurangi ketergantungan pada klien tertentu. (rpi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:18
01:01
01:52
05:54
07:49
05:37

Viral