- ANTARA
Goldprice Anjlok Tajam, Emas dan Perak Tertekan Usai Dolar AS Menguat
Jakarta, tvOnenews.com - Harga emas dunia atau goldprice mengalami penurunan tajam dan mencatatkan kejatuhan terbesar dalam lebih dari satu dekade. Tekanan pada goldprice ini terjadi setelah reli panjang yang sempat membawa harga emas ke rekor tertinggi sepanjang masa. Tak hanya emas, harga perak juga ikut terpuruk dengan koreksi harian terdalam dalam sejarah perdagangan intraday.
Berdasarkan data perdagangan awal pekan, goldprice di pasar spot sempat anjlok hingga 4 persen pada sesi awal Senin. Di saat yang sama, harga perak terjun hampir 12 persen, melanjutkan pelemahan ekstrem yang sudah terjadi sehari sebelumnya. Koreksi tajam ini membuat pasar logam mulia bergejolak dan menjadi perhatian utama investor global.
Tekanan terhadap goldprice dipicu oleh kabar dari Amerika Serikat, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana menunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve. Informasi tersebut langsung mendorong penguatan dolar AS, yang secara historis berdampak negatif terhadap pergerakan goldprice karena emas menjadi lebih mahal bagi investor non-dolar.
Meski sebelumnya sejumlah analis telah memperingatkan reli harga emas terlalu panas dan berpotensi terkoreksi, skala penurunan goldprice kali ini dinilai jauh melampaui ekspektasi pasar. Lonjakan harga yang berlangsung cepat dalam beberapa pekan terakhir akhirnya berbalik arah secara tajam.
Di bursa COMEX, kontrak berjangka emas April (GC=F) tercatat turun signifikan. Harga kontrak emas tersebut berada di level USD 5.067,50 per ounce, melemah USD 287,30 atau sekitar 5,37 persen dalam satu sesi perdagangan. Tekanan ini mempertegas bahwa volatilitas goldprice masih sangat tinggi di tengah dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat.
Sementara itu, di pasar spot Asia, goldprice turun 3,2 persen menjadi USD 4.742,73 per ounce pada pukul 07.16 waktu Singapura. Harga perak juga ikut tergelincir 7,7 persen ke level USD 78,64 per ounce. Logam mulia lainnya, seperti platinum dan palladium, turut mencatatkan penurunan seiring memburuknya sentimen pasar.
Penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan goldprice dalam beberapa hari terakhir. Bloomberg Dollar Spot Index, yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia, naik 0,9 persen pada sesi sebelumnya. Kondisi ini membuat investor global cenderung melepas emas dan beralih ke aset berdenominasi dolar.
Sepanjang beberapa bulan terakhir, goldprice sempat melesat ke rekor tertinggi karena meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan suku bunga. Namun, dengan munculnya sinyal perubahan arah kebijakan The Fed, pelaku pasar mulai mengoreksi ekspektasi mereka terhadap prospek suku bunga dan inflasi.
Analis menilai, tekanan terhadap goldprice masih bisa berlanjut dalam jangka pendek jika dolar AS terus menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika meningkat. Namun, di sisi lain, sejumlah pelaku pasar tetap memandang emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang, terutama jika risiko ekonomi global kembali meningkat.
Pergerakan tajam goldprice juga memicu aksi jual lanjutan di pasar logam mulia lainnya. Harga perak, yang sering bergerak seiring dengan emas, mengalami tekanan lebih dalam karena likuiditas pasar yang lebih kecil dan volatilitas yang lebih tinggi. Kondisi ini membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil posisi baru.
Berikut pergerakan harga logam mulia utama dalam perdagangan terbaru:
-
Goldprice (emas spot): USD 4.742,73 per ounce, turun 3,2 persen
-
Goldprice kontrak COMEX April: USD 5.067,50 per ounce, turun 5,37 persen
-
Harga perak: USD 78,64 per ounce, turun 7,7 persen
-
Platinum: melemah dalam perdagangan awal Asia
-
Palladium: ikut terkoreksi seiring sentimen negatif pasar
Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve berikutnya sebagai penentu utama pergerakan goldprice ke depan. Jika dolar AS terus menguat dan ekspektasi penurunan suku bunga memudar, tekanan terhadap harga emas berpotensi berlanjut dalam beberapa sesi mendatang.
Sebaliknya, jika ketidakpastian global kembali meningkat atau muncul sinyal perlambatan ekonomi, permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai dapat kembali menopang goldprice. Untuk sementara, pasar masih berada dalam fase penyesuaian setelah reli panjang yang mendorong harga emas ke level tertinggi sepanjang sejarah.