- tvOnenews.com/Rilo Pambudi
Kadin Bidik Pasar Uni Eropa Lewat Slovakia: Tarif 98 Persen Dihilangkan, Akses 600 Juta Euro Terbuka
Jakarta, tvOnenews.com — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memandang Slovakia sebagai pintu strategis untuk memperluas penetrasi produk nasional ke pasar Uni Eropa yang bernilai ratusan juta euro.
Peluang itu menguat seiring rencana penghapusan hingga 98 persen tarif setelah proses ratifikasi rampung.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, mengatakan Slovakia memiliki posisi penting sebagai mitra Indonesia di dalam European Union (EU), kawasan dengan daya serap pasar yang setara bahkan tak kalah besar dari Amerika Serikat.
“Mereka mengatakan bahwa Slovakia itu adalah teman daripada Indonesia di European Union. Kita ketahui European Union ini besar sekali pasarnya, tidak kalah dengan Amerika, dan Slovakia adalah anggota,” ujar Anindya usai Indonesia–Slovakia Business Forum di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Selasa (3/2/2026).
Anindya menegaskan, pascaratifikasi, terbukanya pasar Uni Eropa akan berdampak signifikan bagi ekspor Indonesia.
“Kalau nanti sudah selesai ratifikasinya, itu artinya pasar terbuka dan 98 persen dari tarif dihilangkan. Yang jumlahnya sampai 600 juta euro, itu gede sekali,” ucapnya.
Menurutnya, peluang tersebut bisa dimanfaatkan berbagai sektor unggulan Indonesia, mulai dari tekstil, garmen, alas kaki, hingga elektronik dan furnitur. Bahkan, pasar Uni Eropa dapat menjadi jalur alternatif untuk menembus pasar lain, termasuk Amerika Serikat.
“Misalnya tekstil, garmen, alas kaki, elektronik, furniture,” kata Anindya.
Tak hanya soal perdagangan, Slovakia juga dinilai memiliki keunggulan teknologi yang relevan dengan agenda strategis Indonesia. Anindya menyebut kemampuan Slovakia di bidang pengolahan limbah dan air dapat menopang hilirisasi sektor pertanian serta ketahanan pangan nasional.
“Slovakia ini, mempunyai kemampuan teknologi yang tinggi. Teknologi untuk bukan hanya waste, tapi juga water treatment yang bisa berguna untuk hilirisasi daripada agrikultur, untuk ketahanan pangan,” ujarnya.
Di sektor industri, Slovakia juga dinilai selaras dengan ambisi Indonesia mengembangkan hilirisasi mineral kritis dan otomotif.
“Kalau hilirisasi daripada misalnya critical minerals atau otomotif, di sana mereka berproduksi 1,2 juta mobil, harusnya sama dengan Indonesia, walaupun penduduknya hanya 5 juta,” tutur Anindya.
Selain itu, kualitas pendidikan Slovakia yang mampu mencetak insinyur dan tenaga medis juga membuka peluang kerja sama sumber daya manusia.
“Mereka juga mempunyai suatu pendidikan cukup bagus untuk mencetak insinyur, maupun juga dokter dan lain-lain,” katanya.
Kadin, lanjut Anindya, mendorong penguatan konektivitas lintas level, mulai dari antarpemerintah hingga pelaku usaha dan masyarakat.
“Benar-benar tadi ingin ditingkatkan konektivitas antara institusi dan institusi, G2G dan B2B, tapi juga antara people to people,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Kadin Indonesia dan Slovak Investment and Trade Development Agency (SARIO) menandatangani nota kerja sama. SARIO merupakan lembaga negara Slovakia yang fokus pada investasi dan perdagangan.
“Saya rasa kunjungan yang bagus, tadi tanda tangan antara Kadin dan SARIO,” kata Anindya.
Ia menambahkan, Slovakia juga menyampaikan pengalamannya sebagai anggota OECD selama 25 tahun dan kesiapannya membantu Indonesia menuju organisasi tersebut.
“Mereka sudah 25 tahun dan mereka merasakan manfaatnya dan mereka bisa membantu kita sampai ke OECD, sehingga taraf kita menjadi setara dengan negara-negara yang maju, tapi tentu dengan cara kita sendiri yang bukan hanya tumbuh, tapi juga inklusif,” pungkas Anindya.
Langkah ini menegaskan strategi Indonesia memperluas jejaring global, tak hanya dengan negara adikuasa seperti Amerika Serikat dan China, tetapi juga memperkuat posisi di Uni Eropa dan BRICS di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. (agr/rpi)