- Istimewa
IHSG Terkoreksi ke 8.265 Usai Reli Tiga Hari, Asing Jual Bersih Rp1,49 Triliun, BMRI Jadi Buruan
Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terkoreksi setelah mencatat reli selama tiga hari berturut-turut. Pada perdagangan Kamis (12/2/2026), IHSG ditutup melemah 25,61 poin atau turun 0,31 persen ke level 8.265,35.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing dalam jumlah besar. Data perdagangan menunjukkan asing membukukan net sell jumbo sebesar Rp1,49 triliun di seluruh pasar. Di pasar reguler saja, nilai jual bersih asing bahkan mencapai Rp2,03 triliun.
Namun demikian, tekanan di pasar reguler sedikit teredam oleh aksi beli di pasar negosiasi dan tunai. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih sebesar Rp542,38 miliar pada segmen tersebut.
Kondisi ini menandai perubahan arah setelah IHSG sebelumnya bergerak positif selama tiga sesi perdagangan.
Asing Masih Borong Saham-Saham Tertentu
Meski secara agregat mencatat jual bersih, sejumlah saham justru menjadi incaran investor asing. Saham perbankan dan komoditas mendominasi daftar net foreign buy terbesar.
Saham dengan pembelian bersih asing tertinggi ditempati oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan nilai Rp330,59 miliar. Aksi beli ini menunjukkan minat asing terhadap sektor perbankan besar masih cukup solid di tengah koreksi IHSG.
Di posisi kedua terdapat PT Timah Tbk. (TINS) dengan net foreign buy Rp154,92 miliar. Saham berbasis komoditas timah ini mendapat dorongan sentimen positif di tengah dinamika harga mineral global.
Selanjutnya, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mencatat pembelian bersih asing Rp61,54 miliar. Saham nikel ini tetap menarik perhatian pelaku pasar seiring prospek industri kendaraan listrik dan hilirisasi mineral.
Daftar 10 Saham dengan Net Foreign Buy Terbesar
Berikut 10 saham dengan net foreign buy terbesar pada perdagangan Kamis:
-
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) – Rp330,59 miliar
-
PT Timah Tbk. (TINS) – Rp154,92 miliar
-
PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) – Rp61,54 miliar
-
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) – Rp54,18 miliar
-
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) – Rp52,12 miliar
-
PT Indosat Tbk. (ISAT) – Rp44,81 miliar
-
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) – Rp36,22 miliar
-
PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) – Rp32,45 miliar
-
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) – Rp32,08 miliar
-
PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) – Rp30,85 miliar
Daftar tersebut menunjukkan dominasi sektor perbankan, telekomunikasi, dan komoditas dalam radar investor asing. Saham big caps seperti BMRI, TLKM, dan BBNI tetap menjadi pilihan utama saat pasar bergerak fluktuatif.
IHSG Melemah Setelah Reli Tiga Hari
Koreksi IHSG ke level 8.265,35 terjadi setelah indeks sempat menguat selama tiga hari berturut-turut. Tekanan jual asing yang cukup besar menjadi salah satu faktor utama pelemahan kali ini.
Meski demikian, aksi beli selektif pada saham-saham tertentu mengindikasikan bahwa investor global belum sepenuhnya keluar dari pasar Indonesia. Strategi yang terlihat adalah rotasi sektor dan penguatan posisi di saham dengan fundamental dinilai solid.
Pergerakan ini juga mencerminkan dinamika pasar yang cenderung teknikal setelah reli pendek. Sebagian pelaku pasar memanfaatkan momentum untuk mengambil keuntungan (profit taking), terutama pada saham-saham yang sebelumnya telah mengalami kenaikan signifikan.
Sektor Perbankan Masih Menarik
Menariknya, tiga bank besar nasional yakni BMRI, BBTN, dan BBNI masuk dalam daftar net foreign buy. Hal ini mengindikasikan sektor keuangan masih dipandang prospektif di tengah kondisi pasar yang terkoreksi.
Sementara itu, saham berbasis komoditas seperti TINS, INCO, AADI, dan NCKL juga tetap dilirik, menunjukkan sentimen terhadap sektor sumber daya alam belum sepenuhnya meredup.
Dengan kombinasi net sell secara agregat dan net buy pada saham tertentu, pasar menunjukkan pola selektif. Investor asing tampak melakukan reposisi portofolio, bukan sepenuhnya menarik dana dari pasar saham Indonesia.
Pergerakan IHSG selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh sentimen global, arus modal asing, serta respons pasar terhadap data ekonomi domestik yang akan dirilis dalam waktu dekat. (nsp)