- istimewa - antaranews
Putusan Mahkamah Agung AS Jadi Angin Segar Pasar Modal, IHSG Diprediksi Menguat Pekan Depan
Jakarta, tvOnenews.com - Sentimen positif dari Amerika Serikat diperkirakan akan menjadi pendorong pergerakan pasar keuangan Indonesia pada pekan depan. Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump dinilai memberikan kepastian baru di tengah ketidakpastian global, sehingga berdampak konstruktif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ekonom keuangan sekaligus praktisi pasar modal Hans Kwee menilai, kepastian hukum atas kebijakan perdagangan tersebut menjadi katalis yang mampu meredakan kekhawatiran investor global. Dengan meredanya tekanan eksternal, aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi kembali menguat.
“IHSG berpeluang bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat,” ujarnya. Secara teknikal, indeks diperkirakan memiliki area support di kisaran 7.861–8.170 dan resistance pada rentang 8.251–8.596.
Tarif Global Dinilai Tidak Terlalu Agresif
Kebijakan tarif global sebesar 10 persen yang diterapkan selama 150 hari juga dinilai tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap perdagangan dunia. Besaran tarif yang relatif moderat membuat pelaku pasar melihat kebijakan tersebut sebagai langkah proteksi terbatas, bukan eskalasi perang dagang.
Kondisi ini memberi ruang bagi pasar negara berkembang untuk tetap tumbuh tanpa gangguan signifikan terhadap rantai pasok maupun kinerja ekspor.
Bagi Indonesia, stabilitas tersebut penting karena investor global cenderung kembali memburu aset dengan imbal hasil lebih tinggi ketika risiko global mulai terkendali.
Data Ekonomi AS Campuran, Harapan Penurunan Suku Bunga Masih Ada
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan gambaran yang beragam. Produk domestik bruto (PDB) riil AS tercatat hanya tumbuh 1,4 persen pada kuartal IV-2025, sementara secara tahunan ekonomi AS tumbuh 2,2 persen sepanjang 2025.
Namun, inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) masih berada di level 3 persen pada Desember 2025 atau lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Kondisi ini membuat peluang penurunan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve dalam waktu dekat menjadi lebih kecil.
Meski demikian, pelaku pasar masih berharap akan ada dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini. Ekspektasi pelonggaran moneter tersebut tetap menjadi faktor yang menopang optimisme di pasar saham global.
“Pasar masih menunggu arah kebijakan The Fed, karena suku bunga yang lebih rendah akan mendorong aliran dana ke emerging market,” kata Hans.
Volatilitas Global Masih Dipengaruhi Isu AI dan Harga Minyak
Selain faktor kebijakan moneter, perhatian investor global juga tertuju pada volatilitas saham teknologi, terutama yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan (AI). Fluktuasi sektor ini masih memengaruhi pergerakan indeks global karena besarnya kapitalisasi perusahaan teknologi terhadap pasar.
Di sektor energi, harga minyak dunia juga bergerak dinamis akibat ketegangan geopolitik dan keputusan produksi dari OPEC dan mitranya. Kekhawatiran potensi konflik antara AS dan Iran turut memperbesar ketidakpastian harga energi global.
Meski volatilitas masih tinggi, kondisi tersebut justru membuat obligasi negara berkembang menjadi semakin menarik secara historis.
“Obligasi emerging market saat ini berada di level valuasi yang sangat menarik dan berpotensi memasuki periode kinerja kuat,” ujarnya.
Indonesia Diuntungkan Arus Dana ke Emerging Market
Dengan meningkatnya minat investor terhadap aset negara berkembang, Indonesia dinilai berada dalam posisi strategis untuk menerima aliran modal masuk. Stabilitas fundamental ekonomi domestik menjadi faktor pendukung utama.
Langkah antisipatif yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan bersama Self-Regulatory Organization (SRO) dinilai cukup efektif dalam merespons perhatian global, termasuk menyikapi evaluasi dari MSCI Inc. terkait status pasar modal Indonesia.
Upaya tersebut membantu meredakan kekhawatiran terjadinya reklasifikasi atau penurunan status pasar dari emerging market menjadi frontier market, yang sebelumnya sempat menjadi perhatian investor.
Kebijakan Moneter BI Jaga Stabilitas
Dari sisi domestik, kebijakan moneter juga memberikan sinyal stabilitas. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada pertemuan Februari 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Keputusan tersebut mencerminkan pendekatan hati-hati dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
Suku bunga yang stabil memberikan kepastian bagi investor sekaligus menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik di tengah dinamika global.
IHSG Berpeluang Menguat, Namun Tetap Waspada
Dengan kombinasi sentimen global yang mulai membaik dan fundamental domestik yang terjaga, IHSG diproyeksikan bergerak positif dalam jangka pendek. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, seperti ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta fluktuasi harga komoditas.
Pasar dinilai masih akan bergerak dalam pola konsolidasi, namun peluang penguatan tetap terbuka seiring meredanya tekanan eksternal dan meningkatnya minat terhadap aset emerging market.
Kondisi ini menjadi momentum bagi pasar modal Indonesia untuk menjaga tren pemulihan sekaligus memperkuat kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi nasional di tahun 2026. (nsp)