- Abdul Gani Siregar/tvOnenews
IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp17.000, Purbaya Salahkan Ekonom Sebar Narasi Pesimis
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi soal nilai tukar rupiah yang kini tembus Rp17.000 per dolar AS serta anjloknya Indeks Saham Gabungan (IHSG).
Hal ini menurutnya dipengaruhi oleh sentimen pesimistis pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam fase ekspansi dan jauh dari ancaman krisis.
Purbaya mengatakan pelemahan pasar saham dan nilai tukar rupiah terjadi seiring berkembangnya narasi negatif yang menyebut perekonomian Indonesia tengah menuju krisis seperti yang pernah terjadi pada 1998.
“Rp17.000 ya, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi menuju 98 lagi. Katanya daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi,” kata Purbaya usai mengunjungi Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah pasar keuangan domestik mengalami tekanan signifikan pada perdagangan hari ini. IHSG tercatat melemah hingga ke level 7.374, turun 371,2 poin atau 4,89 persen.
Sementara itu, nilai tukar rupiah dibuka di posisi Rp17.017 per US$, melemah sekitar 90 poin atau 0,53 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu yang berada di level Rp16.925 per US$.
Menurut Purbaya, pesimisme yang berkembang di pasar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil perekonomian nasional. Ia menilai aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan normal dan bahkan menunjukkan tren pertumbuhan.
Pemerintah, kata dia, juga terus berupaya menjaga daya beli masyarakat agar aktivitas konsumsi tetap terjaga, sehingga perekonomian nasional dapat terus tumbuh.
“Boro-boro krisis, resesi saja belum. Lambatnya saja belum. Kita masih ekspansi, kita masih akselerasi. Itu yang kita jaga dalam beberapa minggu ke depan,” ujarnya.
Ia juga meminta para investor untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap gejolak yang terjadi di pasar saham maupun nilai tukar. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan global.
“Jadi investor di pasar saham tidak usah takut. Pondasi kita jaga betul. Kita sudah tahu 97-98 apa penyebabnya,” kata Purbaya.
Pemerintah, lanjutnya, telah memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi global. Hal itu menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Ia mencontohkan pengalaman Indonesia dalam melewati krisis keuangan global 2008 hingga guncangan ekonomi saat pandemi COVID-19 pada 2020.
“Pengalaman 2008, 2014, 2020 kita bisa menjaga dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Jadi teman-teman tidak usah takut. Kita sudah punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi gejolak yang terjadi,” ujarnya. (agr/iwh)