- Antara
BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen, Rupiah Tertekan dan Modal Asing Keluar
Jakarta, tvOnenews.com – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026. Keputusan ini diproyeksikan diambil di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi, terutama akibat ketidakpastian global dan gejolak geopolitik yang berdampak pada nilai tukar rupiah.
Sejumlah ekonom menilai langkah menahan suku bunga menjadi pilihan paling realistis saat ini guna menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Tekanan terhadap rupiah yang masih berlangsung membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas.
Tekanan Global Jadi Faktor Penentu
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai tekanan eksternal masih cukup kuat sehingga daya tarik aset berdenominasi rupiah harus tetap dijaga. Dalam kondisi ini, kebijakan suku bunga menjadi instrumen penting untuk menahan aliran keluar modal dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Menurutnya, arah pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, prospek peringkat utang (sovereign rating) Indonesia juga menjadi faktor yang turut menentukan sentimen investor terhadap aset domestik.
Ketidakpastian yang berkepanjangan membuat investor cenderung bersikap hati-hati, bahkan menarik dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Efek Perang dan Harga Minyak
Dari sisi lain, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, menilai konflik geopolitik yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada inflasi global, termasuk Indonesia.
Kenaikan harga energi berisiko mempersempit ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Bahkan, jika harga minyak bertahan tinggi di atas 100 dolar AS per barel, arah kebijakan bisa berubah menjadi lebih ketat.
Dalam kondisi tersebut, bukan tidak mungkin BI justru mengambil sikap lebih hawkish atau menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas ekonomi.
Ruang Penurunan Suku Bunga Semakin Sempit
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjadi faktor penting. Saat ini, pasar memperkirakan The Fed hanya akan memangkas suku bunga satu kali sepanjang 2026, kemungkinan pada akhir tahun.