- Istimewa
Harga Minyak Dunia Melonjak, Dorongan Percepat B50 Menguat untuk Tekan Beban Impor Energi
Jakarta, tvOnenews.com – Lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk mempercepat implementasi kebijakan biodiesel 50 persen (B50). Langkah ini dipandang krusial guna menekan beban impor energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, menegaskan bahwa percepatan mandatori biodiesel dari B40 ke B50 atau lebih tinggi menjadi solusi realistis menghadapi tekanan harga energi global yang terus meningkat.
Lonjakan Harga Minyak Bebani APBN
Menurut Tungkot, kenaikan harga minyak mentah dunia memiliki dampak langsung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia mengingatkan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar US$10 per barel dapat meningkatkan beban negara secara signifikan.
“Setiap kenaikan US$10 per barel, tambahan beban APBN bisa mencapai Rp20 hingga Rp30 triliun,” ujarnya di Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor energi fosil untuk memenuhi kebutuhan domestik. Ketergantungan tersebut membuat ekonomi nasional rentan terhadap gejolak global.
Konflik Timur Tengah Picu Risiko Energi
Tungkot menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah, khususnya jalur distribusi energi di Selat Hormuz, memiliki peran vital dalam pasokan energi dunia. Sekitar 20 hingga 30 persen kebutuhan energi fosil global bergantung pada jalur ini, termasuk pasokan untuk Indonesia.
Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut berpotensi mengganggu distribusi energi dan mendorong harga minyak semakin tinggi. Akibatnya, negara importir seperti Indonesia harus membayar lebih mahal untuk memenuhi kebutuhan energi.
“Negara importir seperti Indonesia bisa membayar dua kali lipat harga impor akibat konflik ini,” jelasnya.
B50 Jadi Solusi Kurangi Ketergantungan Impor
Dalam situasi tersebut, pengembangan energi terbarukan dinilai menjadi langkah strategis, salah satunya melalui percepatan implementasi B50. Program ini mengombinasikan 50 persen solar dengan 50 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit.
Tungkot menilai, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjalankan kebijakan ini. Pengalaman panjang dalam implementasi mandatori biodiesel sejak 2009 menjadi fondasi penting untuk melangkah ke tahap B50.