- istimewa - antaranews
IHSG Dibuka Lagi Besok, Pasar Dibayangi Perang Global dan Agenda Krusial Domestik
Jakarta, tvOnenews.com - Bursa saham Indonesia yakni IHSG akhirnya kembali dibuka pada Rabu (25/3/2026), namun pelaku pasar langsung dihadapkan pada tantangan berat dari tekanan global hingga sentimen dalam negeri.
Setelah libur, perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan tidak akan berjalan mulus. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak fluktuatif, bahkan tertekan, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Dibuka di Tengah Bayang-Bayang Konflik Global
Salah satu faktor utama yang membebani pasar adalah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.
Konflik ini berdampak luas terhadap pasar keuangan global, mulai dari lonjakan harga minyak hingga meningkatnya ketidakpastian investor. Kondisi tersebut biasanya mendorong investor global menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Data Ekonomi AS Jadi Penentu Arah Dana
Selain geopolitik, pasar juga menanti rilis data ekonomi dari Amerika Serikat yang akan sangat menentukan arah aliran modal global.
Jika data ekonomi AS menunjukkan penguatan, ada potensi arus dana kembali ke aset-aset dolar, yang bisa menekan pasar saham domestik.
Sebaliknya, jika data melemah, pasar berkembang seperti Indonesia bisa mendapatkan aliran dana segar.
Sentimen Domestik: Data Investor Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis data terbaru dari Kustodian Sentral Efek Indonesia pada akhir Maret 2026.
Data ini dinilai krusial karena akan mengungkap pola kepemilikan saham melalui 27 kategori investor baru, mulai dari investor ritel hingga institusi.
Informasi tersebut akan memberikan gambaran jelas apakah pasar Indonesia lebih didominasi oleh investor domestik atau asing—faktor penting dalam mengukur stabilitas pasar.
Efek Domino ke Evaluasi Global
Data KSEI juga akan menjadi bahan penting bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam pertemuan dengan MSCI pada April 2026.
Selama ini, MSCI menyoroti isu rendahnya free float pada sejumlah saham di Indonesia yang dianggap menghambat likuiditas.
Jika tidak ada perbaikan, bukan tidak mungkin Indonesia menghadapi tekanan lebih lanjut dari sisi persepsi investor global.