- Kementan
Ekspor Pertanian Melonjak 28 Persen, Begini Sinyal Kuat Ketahanan Pangan Indonesia
Kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian juga semakin kuat. Produk Domestik Bruto sektor ini tumbuh 5,74 persen pada 2025, menjadi yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir dan mempertegas perannya sebagai salah satu penopang utama ekonomi nasional.
Di tingkat global, harga beras dunia mengalami penurunan hingga 44,2 persen. Meski demikian, Indonesia mampu menjaga ketahanan dengan menghentikan impor beras, menunjukkan kekuatan sistem produksi dalam negeri.
Transformasi menuju pertanian modern turut memberikan dampak besar. Biaya produksi berhasil ditekan hingga 50 persen, sementara produktivitas meningkat sampai 100 persen. Hal ini didukung penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, serta program pompanisasi dan optimalisasi lahan yang dijalankan secara luas.
Penguatan juga dilakukan pada sektor hilirisasi melalui pengembangan komoditas strategis seperti kelapa, kakao, kopi, dan sawit. Upaya ini meningkatkan nilai tambah produk, membuka peluang investasi hingga ratusan triliun rupiah, serta menyerap jutaan tenaga kerja.
Mentan Amran menegaskan bahwa capaian ini tidak lepas dari reformasi struktural yang dilakukan secara menyeluruh, termasuk penyederhanaan regulasi dan penindakan terhadap praktik mafia pangan.
“Kita bereskan dari hulu sampai hilir. Regulasi kita sederhanakan, mafia kita tindak, distribusi kita perbaiki. Hasilnya sekarang nyata, pertanian kita tumbuh, petani sejahtera, dan Indonesia semakin kuat,” tegasnya.
Dengan capaian yang semakin komprehensif, sektor pertanian kini tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan pangan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi, penyedia lapangan kerja, dan sumber devisa negara.
Ke depan, Kementan optimistis tren positif ini akan terus berlanjut. Indonesia ditargetkan mampu mempertahankan swasembada secara berkelanjutan sekaligus memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan dunia dan pemain utama dalam perdagangan pertanian global. (rpi)