news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ILUSTRASI - Uang.
Sumber :
  • Antara/Rivan Awal Lingga

Rupiah Melemah Jadi Rp17.289 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan AS-Iran yang Tingkatkan Harga Energi

Rupiah melemah 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026) pagi.
Kamis, 23 April 2026 - 12:46 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah melemah 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS pada Kamis (23/4/2026) pagi.

Nilai tukar rupiah melemah dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Menurut Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa, pelemahan rupiah dipicu ketegangan antara AS dengan Iran. Ketegangan inilah yang mendorong kenaikan harga energi.

“Konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara AS dan Iran, mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven,” ujarnya, Kamis (23/4/2026). 

Melansir Sputnik, Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran secara pihak.

Meski demikian, AS tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pelanggaran komitmen, tindakan blokade di Selat Hormuz dan ancaman dari AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.

Melansir Anadolu, harga energi melonjak karena ketidakpastian gencatan senjata AS-Iran dan risiko negosiasi damai gagal. Hal ini memicu kekhawatiran baru tentang gangguan pasokan global.

Terpantau minyak mentah Brent berada di sekitar 98,50 dolar AS per barel pada pukul 18:40 GMT per Selasa (22/4/2026).

Sementara itu, patokan AS West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi sekitar 89,60 dolar AS per barel.

Tak hanya itu saja, harga gas alam Eropa ikut naik 8,2 persen dengan kontrak berjangka TTF (Title Transfer Facility) meningkat sekitar 51,3 dolar AS per megawatt-jam.

Menurut Amru, sentimen lainnya berasal dari ekspektasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama turut memperkuat dolar AS sehingga mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Dari sisi domestik, keputusan BI mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen mencerminkan fokus pada stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Akan tetapi, respons pasar cenderung berhati-hati karena ruang kebijakan yang terbatas akibat inflasi yang mendekati batas atas target dan meningkatnya tekanan harga energi.

Untuk meredam volatilitas, BI disebut-sebut menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:34
01:54
02:04
01:23
01:21
01:36

Viral