- Istimewa
Harga Minyak Goreng Tertekan Biaya Plastik, Ekonom Peringatkan Dampak ke Inflasi dan Daya Beli
Jakarta, tvOnenews.com - Kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik kembali menjadi perhatian. Tekanan kali ini bukan hanya berasal dari bahan baku, tetapi juga dari lonjakan biaya kemasan plastik yang terjadi di sektor hulu.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai kenaikan harga minyak goreng saat ini sulit dihindari. Ia menyebut biaya kemasan plastik menjadi salah satu faktor dominan yang mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Biaya Plastik Naik, Harga Ikut Terdorong
Menurut Esther, lonjakan harga plastik dipicu oleh ketidakstabilan geopolitik global serta gangguan distribusi bahan baku. Kondisi ini berdampak langsung pada industri pengemasan, yang pada akhirnya membebani biaya produksi minyak goreng.
“Lonjakan harga kemasan plastik berasal dari hulu akibat tekanan geopolitik dan gangguan distribusi,” ujarnya.
Kenaikan biaya tersebut kemudian diteruskan ke harga jual, sehingga konsumen merasakan dampaknya dalam bentuk harga minyak goreng yang semakin tinggi.
Industri Didorong Cari Alternatif Kemasan
Di tengah tekanan biaya, pelaku industri dinilai akan terdorong mencari solusi jangka panjang, termasuk penggunaan kemasan yang lebih efisien.
Esther menyebut kondisi ini bisa menjadi momentum untuk inovasi di sektor pengemasan, meski dalam jangka pendek tetap memberi tekanan pada harga.
“Hal ini memicu penggunaan kemasan yang lebih efisien karena naiknya biaya plastik,” jelasnya.
Namun demikian, perubahan ini tidak serta-merta menurunkan harga dalam waktu cepat, karena membutuhkan penyesuaian di sisi produksi dan distribusi.
Dampak ke Inflasi dan Konsumsi Rumah Tangga
Kenaikan harga minyak goreng memiliki dampak luas karena termasuk kebutuhan pokok. Esther mengingatkan bahwa lonjakan harga ini berpotensi memicu inflasi, terutama inflasi pangan.
Selain itu, kenaikan harga juga akan meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga serta berdampak pada pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner.
“Beban pengeluaran harian masyarakat akan meningkat karena minyak goreng merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda,” tegasnya.
Secara makro, kondisi ini juga berpotensi menekan konsumsi masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.