- Istimewa
Harga Minyak Goreng Tertekan Biaya Plastik, Ekonom Peringatkan Dampak ke Inflasi dan Daya Beli
Pengawasan Rantai Pasok Jadi Kunci
Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menilai pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap rantai pasok minyak goreng.
Ia menyoroti bahwa distribusi minyak goreng sebagian besar berada di tangan pelaku swasta, mulai dari hulu hingga hilir.
“Pemerintah perlu mengawasi lebih ketat rantai pasok, karena jalur distribusi tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah,” ujarnya.
Menurutnya, gangguan pada distribusi juga menjadi salah satu faktor yang memperparah kenaikan harga di pasar.
BBM Subsidi Ditahan, Daya Beli Dijaga
Di tengah tekanan harga pangan, Faisal mengapresiasi langkah pemerintah yang memilih tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.
Kebijakan ini dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat agar tidak semakin tertekan di tengah kenaikan harga komoditas lainnya.
“Setidaknya kebijakan ini membantu menjaga pendapatan masyarakat agar tidak tergerus lebih dalam,” katanya.
Dampak Geopolitik Global Tak Terhindarkan
Kondisi global turut memperburuk situasi, terutama dengan meningkatnya tensi geopolitik yang berdampak pada jalur distribusi strategis dunia.
Penutupan jalur seperti Selat Hormuz disebut menjadi salah satu faktor yang mengganggu pasokan bahan baku dan memicu kenaikan harga berbagai komoditas, termasuk bahan untuk industri plastik.
Situasi ini membuat pemerintah menghadapi tantangan kompleks dalam menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
Dengan tekanan dari berbagai sisi—biaya produksi, distribusi, hingga faktor global—harga minyak goreng diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas dalam waktu ke depan. (nsp)