- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Rupiah Sentuh Rp17.346 per Dolar AS, Anindya Bakrie Sebut Ancaman Sekaligus Momentum Dorong Ekspor
Jakarta, tvOnenews.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Per 30 April 2026, rupiah di pasar spot tercatat menyentuh level Rp17.346 per dolar AS, menembus batas psikologis Rp17.300 yang selama ini menjadi acuan kewaspadaan.
Di tengah tekanan tersebut, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menilai kondisi ini tidak sepenuhnya membawa dampak negatif. Ia justru melihat adanya peluang strategis untuk mendorong sektor ekspor dan pariwisata.
Pelemahan Rupiah Dipicu Penguatan Global Dolar AS
Menurut Anindya, tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS secara global terhadap berbagai mata uang dunia.
Ia menilai kondisi ini bukan semata-mata disebabkan oleh fundamental ekonomi domestik, melainkan dinamika global yang saat ini masih bergejolak.
“Penurunan rupiah ini lebih karena penguatan dolar AS terhadap mata uang asing secara umum,” ujarnya di Jakarta.
Situasi tersebut membuat banyak mata uang negara berkembang mengalami tekanan serupa, sehingga pelemahan rupiah perlu dilihat dalam konteks global.
Ancaman Nyata bagi Impor dan Biaya Produksi
Meski membuka peluang, pelemahan rupiah tetap membawa risiko bagi sektor industri, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.
Kenaikan nilai dolar secara otomatis meningkatkan biaya produksi, yang berpotensi menekan margin usaha dan daya beli masyarakat.
Hal ini menjadi tantangan serius bagi pelaku industri yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen impor.
Peluang Emas untuk Ekspor dan Pariwisata
Di sisi lain, Anindya menilai pelemahan rupiah justru dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Dengan nilai tukar yang lebih rendah, harga produk ekspor menjadi relatif lebih murah dan kompetitif di pasar global.
Selain itu, sektor pariwisata juga berpotensi mendapatkan keuntungan karena Indonesia menjadi destinasi yang lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara.
“Nah ini harus disikapi seimbang. Di satu sisi diwaspadai, tapi di sisi lain ini kesempatan untuk memperkuat ekspor dan meningkatkan pemasukan devisa dari pariwisata,” jelasnya.