news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Inflasi.
Sumber :
  • shutterstock

Inflasi Indonesia April 2026 Capai 2,42 Persen, Transportasi Jadi Pemicu Utama Kenaikan Harga

Inflasi Indonesia April 2026 tercatat 2,42 persen yoy. BPS ungkap transportasi, bensin, dan tiket pesawat jadi pendorong utama inflasi.
Senin, 4 Mei 2026 - 15:29 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada April 2026 mencapai 2,42 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka inflasi Indonesia ini menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa yang masih terkendali, namun tetap dipengaruhi sejumlah komoditas utama.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa inflasi Indonesia terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,47 pada April 2025 menjadi 111,09 pada April 2026.

Inflasi Indonesia Bulanan Lebih Rendah dari Maret

Selain inflasi tahunan, inflasi Indonesia secara bulanan (month-to-month/mtm) pada April 2026 tercatat sebesar 0,13 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi Indonesia pada Maret 2026 yang mencapai 0,41 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa laju inflasi Indonesia masih relatif terkendali meskipun tetap mengalami tekanan dari beberapa kelompok pengeluaran.

BPS mencatat, kenaikan inflasi Indonesia bulanan terjadi karena peningkatan IHK dari 110,95 pada Maret 2026 menjadi 111,09 pada April 2026.

Transportasi Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Indonesia

Dalam struktur inflasi Indonesia, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar pada April 2026.

Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,99 persen (mtm) dengan andil terhadap inflasi Indonesia sebesar 0,12 persen.

Beberapa komoditas utama yang mendorong inflasi Indonesia dari sektor transportasi antara lain:

  • Tarif angkutan udara (andil 0,11 persen)

  • Bensin (andil 0,02 persen)

BPS mencatat, tarif angkutan udara mengalami lonjakan inflasi bulanan hingga 15,25 persen. Sementara itu, bensin mengalami inflasi sebesar 0,34 persen.

Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya harga avtur serta beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang turut mendorong inflasi Indonesia.

Namun, di tengah tekanan inflasi Indonesia dari sektor transportasi, tarif angkutan antarkota justru mengalami deflasi sebesar 10,01 persen dengan kontribusi deflasi 0,03 persen.

Makanan dan Restoran Ikut Dorong Inflasi Indonesia

Selain transportasi, inflasi Indonesia juga dipengaruhi oleh kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran.

Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,69 persen (mtm) dengan andil terhadap inflasi Indonesia sebesar 0,07 persen.

Sejumlah komoditas yang turut menyumbang inflasi Indonesia pada April 2026 meliputi:

  • Minyak goreng (0,05 persen)

  • Tomat (0,03 persen)

  • Beras (0,02 persen)

  • Nasi dengan lauk (0,02 persen)

Kenaikan harga pada komoditas tersebut memperlihatkan bahwa inflasi Indonesia tidak hanya dipengaruhi sektor energi dan transportasi, tetapi juga sektor pangan.

Deflasi Tahan Laju Inflasi Indonesia

Di sisi lain, inflasi Indonesia pada April 2026 juga tertahan oleh sejumlah kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat deflasi sebesar 0,99 persen dengan kontribusi 0,07 persen terhadap penurunan inflasi Indonesia.

Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami deflasi sebesar 0,20 persen dengan andil 0,06 persen.

Dari sisi komoditas, beberapa penyumbang deflasi dalam inflasi Indonesia antara lain:

  • Daging ayam ras (andil deflasi 0,11 persen)

  • Emas perhiasan (0,09 persen)

  • Cabai rawit (0,06 persen)

  • Telur ayam ras (0,04 persen)

Penurunan harga pada komoditas tersebut menjadi faktor penting yang menahan laju inflasi Indonesia agar tidak meningkat lebih tinggi.

Inflasi Indonesia Masih Dipengaruhi Faktor Energi dan Pangan

Data BPS menunjukkan bahwa inflasi Indonesia pada April 2026 masih dipengaruhi oleh dinamika harga energi dan pangan.

Kenaikan harga avtur dan BBM nonsubsidi berdampak langsung pada tarif transportasi udara, yang kemudian menjadi penyumbang terbesar inflasi Indonesia.

Di sisi lain, fluktuasi harga pangan tetap menjadi faktor penting dalam membentuk inflasi Indonesia, baik sebagai pendorong maupun penahan inflasi.

Dengan kondisi ini, inflasi Indonesia mencerminkan kombinasi antara tekanan biaya transportasi dan pergerakan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Inflasi Indonesia Tetap Terkendali di Tengah Tekanan Harga

Secara keseluruhan, inflasi Indonesia pada April 2026 yang mencapai 2,42 persen (yoy) menunjukkan kondisi yang masih relatif stabil.

Meskipun terdapat tekanan dari sektor transportasi dan beberapa komoditas pangan, adanya deflasi pada sejumlah kelompok pengeluaran membantu menjaga keseimbangan inflasi Indonesia.

Perkembangan ini menegaskan bahwa inflasi Indonesia masih berada dalam kendali, meskipun tetap perlu diwaspadai terutama dari sisi energi dan distribusi pangan yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga ke depan. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:58
00:58
00:49
04:00
02:43
01:22

Viral