news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi ekspor-impor RI yang tergambar dari suasana di terminal petikemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta..
Sumber :
  • Dok. Pelindo

Impor Naik Tajam, Tapi Neraca Dagang RI Tetap Surplus 71 Bulan Berturut-turut

Indonesia memperpanjang tren surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut, dengan kontribusi terbesar berasal dari ekspor nonmigas, khususnya industri pengolahan.
Senin, 4 Mei 2026 - 17:23 WIB
Reporter:
Editor :

Secara rinci, ekspor besi dan baja tumbuh 0,56 persen secara kumulatif. Ekspor CPO dan turunannya meningkat 3,56 persen, sedangkan ekspor batu bara mengalami penurunan 11,51 persen.

Dari sisi tujuan ekspor, China masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai 16,5 miliar dolar AS atau naik 17,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain China, Amerika Serikat dan India juga menjadi tujuan utama ekspor. Ketiga negara tersebut berkontribusi sebesar 44,48 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional.

Impor Naik 10 Persen Lebih

Sementara itu, dari sisi impor, total nilai impor Indonesia pada Januari-Maret 2026 mencapai 61,30 miliar dolar AS atau meningkat 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor nonmigas tercatat sebesar 52,97 miliar dolar AS atau naik 12,16 persen. Adapun impor migas turun 1,72 persen menjadi 8,33 miliar dolar AS.

Menurut Ateng, peningkatan impor terutama dipicu oleh kebutuhan bahan baku dan penolong yang mencapai 43,17 miliar dolar AS atau tumbuh 6,89 persen.

Beberapa komoditas impor yang mencatat kenaikan signifikan meliputi mesin dan peralatan listrik, logam mulia dan perhiasan, serta berbagai produk kimia.

Ia juga menyampaikan bahwa impor bahan baku plastik pada Maret 2026 tercatat sebesar 338,1 juta dolar AS atau mengalami penurunan bulanan sebesar 14,96 persen.

Dalam komposisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai 4,43 miliar dolar AS. Posisi ini diikuti India sebesar 3,29 miliar dolar AS dan Filipina sebesar 2,61 miliar dolar AS.

Sebaliknya, defisit terbesar terjadi dengan China sebesar 5,18 miliar dolar AS, diikuti Australia sebesar 2,5 miliar dolar AS, serta Singapura sebesar 1,9 miliar dolar AS. (ant/rpi)

Berita Terkait

1
2
Tampilkan Semua

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:58
00:58
00:49
04:00
02:43
01:22

Viral